Showing posts with label rejang. Show all posts
Showing posts with label rejang. Show all posts

Sunday, June 5, 2011

Rejang Obeisance (Sembea)

Posted by Yayux at 1:10 AM 0 comments
Depository document :
Professor Mervyn Aubrey Jaspan
The University of Hull, United Kingdom


[Palestine+Gaza.jpg]
[edit.jpg]
[rejang+2.jpg]
[edit.jpg]
[edit.jpg]
[edit.jpg]
[Palestine+gaza+5.jpg]
[palestine+gaza+5a.jpg]
[palestine+gaza+6.jpg]
[palestine+gaza+7.jpg]
[palestine+gaza+8.jpg]

Monday, February 8, 2010

Mengandak

Posted by Yayux at 11:35 AM 0 comments



MENGANDAK

Pengertian mengandak berasal dari kata andak, dalam bahasa Rejang berarti berhenti , mengandak jadi dapat diartikan berhenti di tempat.

Dalam asyiknya menari , pada garis perbatasan maka tarian akan berhenti , karena merasa tidak puas dengan tarian saja, mereka lalu ingin menyampaikan apa yang ada dalam hatinya melalui sambai ( pantun). Dengan tertib pria dan wanita duduk berhadapan ditengah – tengah balai, ditengah nya diletakan redap , lampu, bakul sirih , dan pria serta wanita memegang kipas menutup mukanya ketika menyampaikan kata – kata dalam sambai didampingi oleh tua sambai, ketua batin saling bersaut – sautan. Setelah puas menyampaikan isi hatinya, masing – masing mereka berdiri untuk menari kembali.

Dari gerakan tangan, jari dan sembah dapat memberikan pengertian, tidak setuju atau setuju terhadap pasanganya. Misalnya ketika pada sembahan pertama, mereka melepas tangan kesebelah kanan atau kebawah.

Sambai andak dipertunjukan pada masa kejei, sambai biasanya tidak terikat dengan sumbai, karena sambai bujang gadis berbeda tutur bahasa dan irama.

Selain yang tersebut diatas terdapat juga yang menggunakan irama, antara lain :
1. Berjung
2. Berdai
3. Mendula
4. Geritan

Alat Musik pengiringnya :
1. Ginggong
2. Rebana, berbeda dengan redap.
3. Ketipung.
4. Gendang panjang.

Ditulis kembali oleh : Andy Armanda – Radio FOUR FM Curup
Sumber : asal usul adat bimbang di tanah rejang – A.sani

Pariwisata Bengkulu







Thursday, January 28, 2010

AMANAT LELUHUR DARI TANAH REJANG (Marga Bermani Perbo)

Posted by Yayux at 9:56 AM 0 comments
By H.S.A. Bermani

(Meski cerita ini merupakan pengalaman spiritual yang dialami oleh penulis, namun makna dan pesan yang terkandung dalam cerita ini patut diikuti dan diresapi oleh seluruh anak bangsa Rejang atau mereka yang berasal dari tanah Rejang)

Tahun 1952, di usia baru sepuluh tahun, aku dikhitan sebagai persiapan memasuki masa remaja, setelah melalui masa kanak-kanak yang indah. Aku senang membaca, dan juga senang mendengar cerita. Kisah indah dari dongeng yang disampaikan Datuk dan Angung-ku meresap ke dalam kalbuku. Itu membuat dunia dan hari depan mulai kurasakan sebagai hamparan kemungkinan yang tiada batasnya. Aku memiliki pesona hari depan, dan aku menjadi tawanan obsesi yang berada di dalamnya.

Tahun itu, tersebar berita Datuk dan Andung-ku akan berangkat ke tanah suci, Mekkah, menunaikan ibadah haji. Aku dikabarkan juga akan disekolahkan di kota Bengkulu, dan sehabis itu akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di pulau Jawa. Serangkaian rasa bahagia yang indah memasuki kalbuku, dan hatiku yang berbunga-bunga menjelma menjadi senyuman tulus dan sikap ramah kepada siapa saja. Tapi, dalam lubuk hatiku tersirat rasa khawatir dan was-was.

Perasaan khawatir itu muncul mungkin karena kota Bengkulu dikenal sebagai negerinya orang Melayu, sementara aku adalah anak bangsa Rejang. Apalagi, di dalam mata pelajaran sejarah disebutkan bahwa kota Bengkulu adalah tanah pembuangan yang penuh dengan nyamuk malaria yang senang membunuh manusia. Sedangkan tanah Rejang, aku rasakan sebagai negeri yang indah dan menyejukkan.

Datuk dan Andung-ku yang akan berangkat menunaikan ibadah haji, mungkin memiliki suasana hati yang sama denganku. Karena itu, pada suatu hari beliau mengajak aku melakukan campaign in the forest, yang dalam institusi kehidupan Rejang masa lalu disebut tarak, yang di dalam bahasa Indonesia disebut bertapa. Atau sejenis bertafakkur seperti yang pernah dilakukan Rasulullah Muhammad SAW di Gua Hira.

Tarak itu kami lakukan dengan berendam di sungai yang airnya bersinar terang di malam hari. Kawasan dimana kami bertapa itu disebut Imbo Ngew, sebuah kawasan rimba perawan di timur dusun kami, tempat sungai Palik berhulu. Masyarakat Rejang Pesisir sangat mempercayai bahwa kawasan itu sebagai tempat kawanan harimau bermukim. Tapi melalui mantera-mantera, Datuk dapat mengubah sifat buas harimau menjadi jinak dan bersahabat.

Di tengah malam, di sebuah pondok darurat yang terbuat dari ranting kayu beratap daun puea dalam rangkulannya, Datuk membisiki telingaku. Dan, orang-orang percaya bahwa Datuk menyerahkan ilmu nya kepadaku melalui mantera. Bila ditulis kembali dengan pengertian yang tajam kira-kira begini bunyinya :


"Tengah malam di bumi dan haribaan leluhur ini kucurahkan isi jiwaku kepadamu, cucuku. Engkau akan pergi jauh ke berbagai penjuru bumi, berarti engkau menjemput janji Allah SWT yang tersurat di keningmu. Engkau kurestui. engkau bukan lagi milik masa lalu dan masa kini, tetapi milik masa depan. Engkau bukan lagi milikku dan milik kami, tetapi akan menjadi milik bangsa dan tanah airmu. Engkau memang anak yang lahir di negeri Rejang, cucuku sayang. Tetapi, itu adalah akar, sedangkan pohon dan dahan, serta ranting yang akan berbuah lezat bagi umat manusia, akan tumbuh berkembang dalam kawasan lebih luas, dinaungi langit yang juga lebih luas. Namanya Tanah Air Nusantara yang menjunjung kehidupan bangsa Indonesia. Tanah airmu sangat luas, ribuan kali lebih luas dari tanah Rejang, tanah kelahiranmu.


Sejak masa hidup leluhur sampai giliran kami turun ke dunia, persaudaraan dan persahabatan kami hanya selingkup tanah dan negeri Rejang. Tetapi, tiba pada giliran para cucuku turun ke dunia, tanah airmu adalah Indonesia dan persaudaraanmu meliputi sebangsa Indonesia. Dan, kalian turun ke dunia untuk menghimpun arti dan makna kehidupan yang hakiki, serta menebarkannya menjadi hikmah kebajikan dalam bumi suburnya hidup dan kehidupan. Arti dan makna hakiki itu tersimpan dalam Ridho Allah SWT, seperti emas mulia tersimpan dalam batu yang keras di perut bumi.

Akan datang waktunya kalian jauh meninggalkan kampung halaman dan keluarga serta kerabat. Engkau memulainya cucuku, berarti engkau mengajak. Itu adalah nasib, dan nasib adalah kehendak-Nya. Tetaplah kalian menatap kearah depan, kearah kawasan dimana negeri dan bangsamu bersatu dalam sumpah dan kerja keras perjuangan untuk mewujudkan cita-cita hari depan yang luhur. Melangkahlah ke depan. Maka secara duniawi kalian menjauhi kami dan menjauhi tanah kelahiran. Tetapi simpanlah kami, negeri dan para leluhurmu , dalam tempat yang juga luhur, yaitu dalam rasa kasih dan kangenmu, serta dalam doamu. Walau pun kami sudah menjadi arwah memenuhi panggilan suci sang penciptan rasa kasih dan doa kami para leluhur menyertaimu selalu, baik melalui aliran darah, tarikan nafas dan denyut jantungmu ataupun dalam setiap langkah ikhtiar perjuangan hidupmu.

Dalam menempuh perjalanan jauh dari negeri dan keluarga dimana leluhurmu terkubur, kalian akan menghadapi berbagai tentangan yang didalamnya terkandung derita dan kesengsaraan. Bahkan mungkim kalian akan memasuki bagian dunia dan kehidupan yang gelap. Kalian tidak akan menemukan saudara dan sahabat, walau pu saudara dan sahabat itu diperlukan. Persaudaraan dan persahabatan adalah kekuatan dahsyat, oleh karena Ridho Allah SWT hadir di dalamnya. Kalian harus menciptakan saudara dan sahabat, di manapun dan terhadap siapa pun. Menegakkan persaudaraan dan persahabatan di atas muka bumi adalah tugas luhur setiap insa hamba Allah SWT.

Cucu-ku sayang, engkau pergi jauh, kuresti. Engkau akan menjadi anak bangsa Indonesia, kurestui. Tetapi kumohon kau selalu ingat bahwa akar kehidupanmu adalah Tanah Rejang dimana leluhurmu terkubur".


Bisikan mantera ke dalam jiwaku itu datang dari kakekku : Haji Djalil Khan yang lahir 1880 dan wafat 1960. Beliau adalah Pangeran terakhir Marga Bermani Perbo, Rejang Pesisir, Bengkulu Utara.

(dikutip dari buku Direktori Keluarga Rejang Jakarta & Sekitarnya)

Source :
Sent by Sandy Nafri
http://www.facebook.com/inbox/?tid=1178168305823

Pariwisata Bengkulu

Friday, December 11, 2009

Long Finger Ring, Rejang Nail Accesories Evidence

Posted by Yayux at 7:30 AM 0 comments
I am not sure what Long Finger Ring accesories in Rejang language mentioned. Noe, in South Sumatra call as Tanggai. Tanggai dance to be official dance from South Sumatra Province recently, even though the Long Finger Ring (Tanggai) also owner by a few tribe from Lampung Province (Muli Dance) and Bengkulu Province (rejang and pasemah tribe).

In Bengkulu province the original dance to be vanished,because their parents did not teach it to their children. And new creation Tanggai dance from sumatra present as instead.

Following below the evidence long finger ring from rejang land (lais) and bengkulu, taken from Volkenkunde Museum Netherland, to be evidence that rejang tribe also have long finger ring also.

Five finger rings from Bengkulu . 1
Dimension :6.5 cm


Finger Ring from Lais, Rejang Culture, Northern Bengkulu,South west Sumatra,Indonesia. 1
Dimension : 5 x 1.2 cm


Long finger nail dance from Empat lawang regency, rejang land, south Sumatra 2


Sigei Dance or tari sembah,long finger ring from lampung province. 4

Long finger Nail Dance (Tari Muli) from Lampung Province,Sumatra


Long finger nail dancer, South Sumatra 3

Long finger nail dancer, South Sumatra 3

Credit :
  1. Volkenkunde Museum, Netherland
  2. htt:/sekitarkita-palembangbari. com
  3. htt:/www.friendster.com/viewphotos.php?uid=77033446&a=607667205
  4. htt:/www.skyscrapercity.com/showthread.php?p=44784982

Thursday, April 23, 2009

A Pre-mortuary Father Mandate - `Oral Literature` of Rejang People

Posted by Yayux at 1:33 AM 0 comments
Depository document :
Professor Mervyn Aubrey Jaspan
The University of Hull, United Kingdom

[demokrat.jpg]
[demokrat+1.jpg]

[demokrat+2.jpg]

[demokrat+3.jpg]
[demokrat+4.jpg]
[demokrat+5.jpg]

Monday, April 13, 2009

Rejung : Oi Asoak

Posted by Yayux at 8:06 AM 0 comments
Rejung oleh Yulisman

This is mourning rejang people poem as rejang litelary form call as rejung. This tittle meaning : Oh my love accompanied with single guitar string humming by the singer.

Oi Asoak


oi asoak jibeak ko menginoi
oi asoak jibeak ko menginoi
kemak ba iben nak biding dalen
kemak ba iben nak biding dalen
ite beduwei coa de bagei
ite beduwei coa de bagei
uku bi namen ko mesoa leyen
uku bi namen ko mesoa leyen


eboak kisik gi eboak telung
eboak ba kisik gi eboak telung
eboak pengei nak sipang epat
eboak ba pengei nak sipang epat
kunie titik uku bi mu ung
kunie titik uku bi mu ung
sapie elei bi nemak kuwat
sapie elei bi nemak kuwat

epun telang nak padang lalang
epun telang nak padang lalang
kemak ba pengei nak epoak umei
kemak ba pengei nak epoak umei
udi senang uku gi malang
udi senang uku gi malang
udi ketawei uku menginoi
udi ketawei uku menginoi

kemak ba silei ubet ba mabuk
kemak silei ubet ba mabuk
kemak minyak gureng ba cabe
kemak ba minyak gureng ba cabe
udi rugei skadar ku emuk
udi ba rugei skadar ku emuk
uku be tunak coa gi kade
uku be tunak ecoa gi kade

pun cekeak kepalo ladei
pun cekeak kepalo ladei
kiyuo siyen nak biding dalen
kiyuo ba siyen nak biding dalen
ite sekedeak bian ba cigei
ite sekedeak bian ba cigei
barat bulen ngen matei bilei
barat ba bulen woi ngen matei bilei

eboak mangis kepek lem pane
eboak ba mangis kepek lem pane
pucuk kemayen nak biding dalen
pucuk kemayen nak biding dalen
kecek pelaris nageak ngen keme
kecek pelaris nageak ngen keme
kecek gi nien nelie mai leyen
kecek gi nien nelie mai leyen

mai dumei sekemak bilei
mai dumei sekemak bilei
sekemak bilei macas ba kebun
sekemak bilei macas ba kebun
ite jijei cigei ke bilei
ite jijei cigei ke bilei
minai ko minget debat de taun
minai ko minget debat de taun

bilei iyo temanen tebeu
bilei ba iyo temanen tebeu
memen sebilei temanem se ie
memen sebilei temanem se ie
bilei iyo ite betemeu
bilei iyo ite betemeu
memen sebilei ite bece ie
memen sebilei ite bece ie

oi asoak jibeak ba menginoi
woi asoak jibeak ba menginoi
kemak ba iben nak biding dalen
kemak ba iben nak biding dalen
ite beduwei coa de bagei
ite beduwei coa de bagei
uku bi namen ko mesoa leyen
uku bi namen ko mesoa leyen


  • Sung by: Yulisman
  • Gitar By : Yulisman
  • Lyric by : Curup Kami
  • Publish by : Tun Jang

Rejung

Sesuai dengan alam yang berada di pelosok-pelosok bukit barisan, menyebabkan anak-anak Rejang dekat dengan kehidupan alam, sehingga tidak mengherankan jikalaupun mereka sudah jauh pergi merantau tetap saja kencenderungan ingat kepada alam yang indah di dataran tinggi sumatra, meski kadang menjadikan angan-angan untuk pulang. Sejalan dengan keadaan seperti itu terkadang tidak mengherankan apabila dalam kesendirian di dalam belantara sambil mengumpulkan hasil hutan mereka menembangkan lagu-lagu yang memiliki muatan budaya yang tinggi, dan apa yang keluar dari hati mereka biasanya sangatlah erat dengan situasi, dimana tidak ada politik, ataupun intervensi dari pihak manapun melainkan murni guratan suara hati, yang terkadang terdengar lirih, sedih dan sendu. Sya’ir beserta irama itulah yang disebut dengan rejung, adapun sya’ir di sini berupa pantun yang terdiri dari empat bait, dimana dua bait adalah sampiran dan dua bait lagi merupakan isi dari pantun tersebut.

Di dataran tinggi sumatra, seni sastra diturunkan secara lisan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Guritan, Anda-andai, memuning, dan rejung (rejunk) adalah bentuk sastra lisan tersebut. Untuk tiga jenis sastra yang pertama, guritan, andai-andai dan memuning, biasanya tidak memakai media alat musik. Akan tetapi untuk jenis rejung dapat dilakukan tanpa alat musik atau mempergunakan alat musik. Alat musik yang dapat dipergunakan antara lain adalah Ramanika (Accordion), Piul (Violin), Gambus, ataupun Gitar Tunggal. Sementara alat musik yang lain seperti Suling (seruling), Seredam , dan Ginggong (Ginggung) tidak dapat dipergunakan untuk megiringi tembang atau rejung dikarenakan ketiga alam musik tersebut adalah alat musik (sejenis alat musik tiup). Dari sekian alat musik yang dapat mengiringi tembang hanya guitarlah yang paling menonjol dikarenakan berkemungkinan dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan alat-alat yang lainnya.

Seni rejung ini banyak berkembang pada suku serumpun anak bukit barisan (istilah penulis) atau sering diistilahkan dengan Lagu Batang Hari Sembilan ini terdiri dari beberapa suku antara lain : Rejang, Besemah, Lahat, Ogan, Pagar Alam, Lintang dan daerah yang memiliki kemiripan bahasa degan dealek "e" contoh kata = tebu). (Anak semende dan gitar tunggal blog)

Rejung : Taneak Pusako

Posted by Yayux at 6:17 AM 0 comments
Rejung by Yulisman

This is mourning rejang people poem as rejang litelary form call as rejung. This tittle meaning : The ancient land accompanied with single guitar string humming by the singer.

Taneak Pusako




pengodai taneak pesako
pengodai taneak pesako
pun cabe woy be tekik-tekik
epun cabe woy be tekik-tekik
meresai do o biaso
meresai do o biaso
kaleu tepike woy gi megis atie
kaleu tepike woy gi megis atie

bioa mudew benangei musei
bioa mudew benangei musei
pun peko woy belebet dawen
epun peko woy belebet dawen
ite sejudew gi paset cigei
ite sejudew gi paset cigei
ku binamen ko mesoa leyen
uku binamen ko mesoa leyen

tabeareneak jamen ne pan njang
tabereneak jamen ne pan njang
beak jamen woy si bioa musei
beak ba jamen woy si bioa musei
dio celako te cito su ang
dio celako te cito su ang
mete cenito woy cigei lak igei
mete cenito woy cigei lak igei

tebat siang dalen sedatang
tebat siang dalen sedatang
dalen meli ing woy mai sadie perbo
dalen meli ing woy mai sadie perbo
dio celako tecito suang
dio celako tecito suang
pateak ating sako ku si teko
pateak ating sako ku si teko

tabeareneak mai suko datang
tabeareneak mai suko datang
dalen bekilok woy mai kawuk perbo
dalen bekilok woy mai kawuk perbo
gen padeak nasib yo malang
gen padeak nasib yo malang
awak ba payeak woy nusir tun kulo
awak ba payeak woy nusir tun kulo

  • Sung by: Yulisman
  • Gitar By : Yulisman
  • Lyric by : Curup Kami
  • Publish by : Tun Jang

Rejung

Sesuai dengan alam yang berada di pelosok-pelosok bukit barisan, menyebabkan anak-anak Rejang dekat dengan kehidupan alam, sehingga tidak mengherankan jikalaupun mereka sudah jauh pergi merantau tetap saja kencenderungan ingat kepada alam yang indah di dataran tinggi sumatra, meski kadang menjadikan angan-angan untuk pulang. Sejalan dengan keadaan seperti itu terkadang tidak mengherankan apabila dalam kesendirian di dalam belantara sambil mengumpulkan hasil hutan mereka menembangkan lagu-lagu yang memiliki muatan budaya yang tinggi, dan apa yang keluar dari hati mereka biasanya sangatlah erat dengan situasi, dimana tidak ada politik, ataupun intervensi dari pihak manapun melainkan murni guratan suara hati, yang terkadang terdengar lirih, sedih dan sendu. Sya’ir beserta irama itulah yang disebut dengan rejung, adapun sya’ir di sini berupa pantun yang terdiri dari empat bait, dimana dua bait adalah sampiran dan dua bait lagi merupakan isi dari pantun tersebut.

Di dataran tinggi sumatra, seni sastra diturunkan secara lisan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Guritan, Anda-andai, memuning, dan rejung (rejunk) adalah bentuk sastra lisan tersebut. Untuk tiga jenis sastra yang pertama, guritan, andai-andai dan memuning, biasanya tidak memakai media alat musik. Akan tetapi untuk jenis rejung dapat dilakukan tanpa alat musik atau mempergunakan alat musik. Alat musik yang dapat dipergunakan antara lain adalah Ramanika (Accordion), Piul (Violin), Gambus, ataupun Gitar Tunggal. Sementara alat musik yang lain seperti Suling (seruling), Seredam , dan Ginggong (Ginggung) tidak dapat dipergunakan untuk megiringi tembang atau rejung dikarenakan ketiga alam musik tersebut adalah alat musik (sejenis alat musik tiup). Dari sekian alat musik yang dapat mengiringi tembang hanya guitarlah yang paling menonjol dikarenakan berkemungkinan dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan alat-alat yang lainnya.

Seni rejung ini banyak berkembang pada suku serumpun anak bukit barisan (istilah penulis) atau sering diistilahkan dengan Lagu Batang Hari Sembilan ini terdiri dari beberapa suku antara lain : Rejang, Besemah, Lahat, Ogan, Pagar Alam, Lintang dan daerah yang memiliki kemiripan bahasa degan dealek "e" contoh kata = tebu). (Anak semende dan gitar tunggal blog)


Rejung: Coa Sayang Igei

Posted by Yayux at 3:43 AM 0 comments
Coa Sayang Igei

Rejung oleh Ice Trisnawati




alang alang ba kemalang
nasib ku iyo
inok ngen bapak coa sayang igei
inok ngen bapak coa sayang igei

ja kunai titik kumu semayang
ja kunai titik kumu semayang
uyo bi elei uyo bi elei
coa sayang igei
uyo bi elei uyo bi elei
coa sayang igei

kinai ku ngen Tuhan umur ku panyang
kinai ku ngen Tuhan umur ku panyang
baik ngen kidek uku temino
baik ngen kidek uku temino

ecoa kulo ku lupo mengucep terimo kasih
ecoa kulo ku lupo mengucep terimo kasih
do o ba jaso do o ba jaso
inok ngen bapak
do o ba jaso do o ba jaso
inok ngen bapak
alang alang ba kemalang
nasib ku iyo

inok ngen bapak coa sayang igei
inok ngen bapak coa sayang igei
ja kunai titik kumu semayang
ja kunai titik kumu semayang
uyo bi elei uyo bi elei
coa sayang igei
uyo bi elei uyo bi elei
coa sayang igei

kinai ku ngen Tuhan umur ku panyang
kinai ku ngen Tuhan umur ku panyang
baik ngen kidek uku temino
baik ngen kidek uku temino

ecoa kulo ku lupo mengucep terimo kasih
ecoa kulo ku lupo mengucep terimo kasih
do o ba jaso do o ba jaso
inok ngen bapak
do o ba jaso do o ba jaso
inok ngen bapak

  • Sung by: Ice Trisnawati
  • Gitar By : Yulisman
  • Lyric by : Curup Kami
  • Publish by : Tun Jang

Rejung

Sesuai dengan alam yang berada di pelosok-pelosok bukit barisan, menyebabkan anak-anak Rejang dekat dengan kehidupan alam, sehingga tidak mengherankan jikalaupun mereka sudah jauh pergi merantau tetap saja kencenderungan ingat kepada alam yang indah di dataran tinggi sumatra, meski kadang menjadikan angan-angan untuk pulang. Sejalan dengan keadaan seperti itu terkadang tidak mengherankan apabila dalam kesendirian di dalam belantara sambil mengumpulkan hasil hutan mereka menembangkan lagu-lagu yang memiliki muatan budaya yang tinggi, dan apa yang keluar dari hati mereka biasanya sangatlah erat dengan situasi, dimana tidak ada politik, ataupun intervensi dari pihak manapun melainkan murni guratan suara hati, yang terkadang terdengar lirih, sedih dan sendu. Sya’ir beserta irama itulah yang disebut dengan rejung, adapun sya’ir di sini berupa pantun yang terdiri dari empat bait, dimana dua bait adalah sampiran dan dua bait lagi merupakan isi dari pantun tersebut.

Di dataran tinggi sumatra, seni sastra diturunkan secara lisan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Guritan, Anda-andai, memuning, dan rejung (rejunk) adalah bentuk sastra lisan tersebut. Untuk tiga jenis sastra yang pertama, guritan, andai-andai dan memuning, biasanya tidak memakai media alat musik. Akan tetapi untuk jenis rejung dapat dilakukan tanpa alat musik atau mempergunakan alat musik. Alat musik yang dapat dipergunakan antara lain adalah Ramanika (Accordion), Piul (Violin), Gambus, ataupun Gitar Tunggal. Sementara alat musik yang lain seperti Suling (seruling), Seredam , dan Ginggong (Ginggung) tidak dapat dipergunakan untuk megiringi tembang atau rejung dikarenakan ketiga alam musik tersebut adalah alat musik (sejenis alat musik tiup). Dari sekian alat musik yang dapat mengiringi tembang hanya guitarlah yang paling menonjol dikarenakan berkemungkinan dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan alat-alat yang lainnya.

Seni rejung ini banyak berkembang pada suku serumpun anak bukit barisan (istilah penulis) atau sering diistilahkan dengan Lagu Batang Hari Sembilan ini terdiri dari beberapa suku antara lain : Rejang, Besemah, Lahat, Ogan, Pagar Alam, Lintang dan daerah yang memiliki kemiripan bahasa degan dealek "e" contoh kata = tebu). (Anak semende dan gitar tunggal blog)

Sunday, April 12, 2009

Rejung : Nasieb

Posted by Yayux at 7:49 PM 0 comments
This is one of the rejang traditional poem,and called as rejung and accompanied with single guitar humming string rythm by Yulisman.


Nasieb


* Uku alew mai Sadei perbo,
* Temeu punguk nak pengei dalen,
* lang ke malang nasieb ku iyo,
* Awei ba punguk indeu ngen bulen,
* lang ke malang nasieb ku iyo,
* Awei ba punguk indeu ngen bulen,

* Uku terus mai Sadie saweak,
* Temeu ku sawei nak bioa musei,
* men ku namen etun temegea’,
* Nemak ku anduk gen plap bioa matei,
* Amen ku namen etun temegea’
* Nemak ku anduk gen plap bioa matei,

* Uku terus mai taba renea’,
* Singea’ uku nak sipang epat,
* Men ku namen eko lak nikea’,
* Kunyeu ba uku idup melarat,
* Men ku namen eko lak nikea’,
* Kunyeu ba uku idup melarat,

* Uku belek mai bioa ambei,
* Mlitas uku kak Sadie cu’up,
* men ku namen eko bi jijei,
* Baik ba uku dakmi ba idup,
* men ku namen eko bi jijei,
* Baik ba uku dakmi ba idup,

* Mai Sambe mai sukarajo
* Tengea tengea ne si jamben besei
* Belo o ko madeak cito
* Sapie ba uyo, ko tinget cigei
* Belo o ko madeak cito

* Sapie ba uyo, ko tinget cigei
* Karang anyar be sipang-sipang
* Sipang ite aleu mai dukew
* Keme begitar dang madeak riang
* Elak ba mapus sedingen edew
* Keme begitar dang madeak riang
* Elak ba mapus sedingen edew

* Epei iyo epei ku nien
* Epei bekembung si benang ijo
* Bagei iyo bagei ku nien
* Bagei menangung dalem dunio
* Bagei iyo bagei ku nien
* Bagei menangung dalem dunio

  • Sung by: Ice Trisnawati
  • Gitar By : Yulisman
  • Lyric by : Curup Kami
  • Publish by : Tun Jang



Rejung

Sesuai dengan alam yang berada di pelosok-pelosok bukit barisan, menyebabkan anak-anak Rejang dekat dengan kehidupan alam, sehingga tidak mengherankan jikalaupun mereka sudah jauh pergi merantau tetap saja kencenderungan ingat kepada alam yang indah di dataran tinggi sumatra, meski kadang menjadikan angan-angan untuk pulang. Sejalan dengan keadaan seperti itu terkadang tidak mengherankan apabila dalam kesendirian di dalam belantara sambil mengumpulkan hasil hutan mereka menembangkan lagu-lagu yang memiliki muatan budaya yang tinggi, dan apa yang keluar dari hati mereka biasanya sangatlah erat dengan situasi, dimana tidak ada politik, ataupun intervensi dari pihak manapun melainkan murni guratan suara hati, yang terkadang terdengar lirih, sedih dan sendu. Sya’ir beserta irama itulah yang disebut dengan rejung, adapun sya’ir di sini berupa pantun yang terdiri dari empat bait, dimana dua bait adalah sampiran dan dua bait lagi merupakan isi dari pantun tersebut.

Di dataran tinggi sumatra, seni sastra diturunkan secara lisan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Guritan, Anda-andai, memuning, dan rejung (rejunk) adalah bentuk sastra lisan tersebut. Untuk tiga jenis sastra yang pertama, guritan, andai-andai dan memuning, biasanya tidak memakai media alat musik. Akan tetapi untuk jenis rejung dapat dilakukan tanpa alat musik atau mempergunakan alat musik. Alat musik yang dapat dipergunakan antara lain adalah Ramanika (Accordion), Piul (Violin), Gambus, ataupun Gitar Tunggal. Sementara alat musik yang lain seperti Suling (seruling), Seredam , dan Ginggong (Ginggung) tidak dapat dipergunakan untuk megiringi tembang atau rejung dikarenakan ketiga alam musik tersebut adalah alat musik (sejenis alat musik tiup). Dari sekian alat musik yang dapat mengiringi tembang hanya guitarlah yang paling menonjol dikarenakan berkemungkinan dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan alat-alat yang lainnya.

Seni rejung ini banyak berkembang pada suku serumpun anak bukit barisan (istilah penulis) atau sering diistilahkan dengan Lagu Batang Hari Sembilan ini terdiri dari beberapa suku antara lain : Rejang, Besemah, Lahat, Ogan, Pagar Alam, Lintang dan daerah yang memiliki kemiripan bahasa degan dealek "e" contoh kata = tebu). (Anak semende dan gitar tunggal blog)

Friday, March 27, 2009

Rejung : Anok Lumang Mesoa Mei

Posted by Yayux at 9:24 AM 0 comments

Anok Lumang Mesoa Mei

Rejung oleh A. Samsudin




alang kesukar mencari ikan
alang kesukar mencari ikan
dapatlah ikan tengah muaro
dapatlah ikan tengah muaro
alang kesukar mencari makan
alang kesukar mencari makan
dapatlah makan jual suaro
dapatlah makan jual suaro


kalau ada keciput mudik
kalau ada keciput mudik
masakan tidak hari pengujan
masakan tidak hari pengujan
kalau ada maksud yang baik
kalau ada maksud yang baik
masa kan tidak dikebut Tuhan
masa kan tidak dikebut Tuhan


dari jauh kapal melintang
dari jauh kapal melintang
patahlah tiang ripung kemudi
patahlah tiang ripung kemudi
dari Rejang kamilah datang
dari Rejang kamilah datang
kabar di sini lah baik hati
kabar di sini lah baik hati


cik siti mengurai rambut
cik siti mengurai rambut
rambut terurai panjang semilang
rambut terurai panjang semilang
kalau sudi salam ku sambut
kalau sudi salam ku sambut
jikalau tidak buang perangai
jikalau tidak buang perangai

Buncis rincis itu di silis
cabe dan bawang itu ditumis
cabe dan bawang itu ditumis
ngapo gadis kini menangis
ngapo gadis kini menangis
melihat bujang banyak berkumis
melihat bujang banyak berkumis


awas - awas mebuka tebat
awas - awas mebuka tebat
tebat berisi la anak udang
tebat berisi la anak udang
awas - awas membuka surat
awas - awas membuka surat
surat berisi cinta dan sayang
surat berisi cinta dan sayang


air musi belubuk-lubuk
air musi belubuk-lubuk
air sempiang berumbak tidak
air sempiang berumbak tidak
habis besi dimakan bubuk
habis besi dimakan bubuk
cinta dan sayang berubah tidak
cinta dan sayang berubah tidak

awas-awas mandi dimusi
awas-awas mandi dimusi
buah beluluk la masak marau
buah beluluk la masak marau
awas-awas mengharap kami
awas-awas mengharap kami
jikalau lubuk menjadi ranjau
jikalau lubuk menjadi ranjau
Disalin oleh Curup Kami
Edit dan Publish oleh Tun Jang


Rejung

Sesuai dengan alam yang berada di pelosok-pelosok bukit barisan, menyebabkan anak-anak Rejang dekat dengan kehidupan alam, sehingga tidak mengherankan jikalaupun mereka sudah jauh pergi merantau tetap saja kencenderungan ingat kepada alam yang indah di dataran tinggi sumatra, meski kadang menjadikan angan-angan untuk pulang. Sejalan dengan keadaan seperti itu terkadang tidak mengherankan apabila dalam kesendirian di dalam belantara sambil mengumpulkan hasil hutan mereka menembangkan lagu-lagu yang memiliki muatan budaya yang tinggi, dan apa yang keluar dari hati mereka biasanya sangatlah erat dengan situasi, dimana tidak ada politik, ataupun intervensi dari pihak manapun melainkan murni guratan suara hati, yang terkadang terdengar lirih, sedih dan sendu. Sya’ir beserta irama itulah yang disebut dengan rejung, adapun sya’ir di sini berupa pantun yang terdiri dari empat bait, dimana dua bait adalah sampiran dan dua bait lagi merupakan isi dari pantun tersebut.

Di dataran tinggi sumatra, seni sastra diturunkan secara lisan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Guritan, Anda-andai, memuning, dan rejung (rejunk) adalah bentuk sastra lisan tersebut. Untuk tiga jenis sastra yang pertama, guritan, andai-andai dan memuning, biasanya tidak memakai media alat musik. Akan tetapi untuk jenis rejung dapat dilakukan tanpa alat musik atau mempergunakan alat musik. Alat musik yang dapat dipergunakan antara lain adalah Ramanika (Accordion), Piul (Violin), Gambus, ataupun Gitar Tunggal. Sementara alat musik yang lain seperti Suling (seruling), Seredam , dan Ginggung tidak dapat dipergunakan untuk megiringi tembang atau rejung dikarenakan ketiga alam musik tersebut adalah alat musik (sejenis alat musik tiup). Dari sekian alat musik yang dapat mengiringi tembang hanya guitarlah yang paling menonjol dikarenakan berkemungkinan dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan alat-alat yang lainnya.

Seni rejung ini banyak berkembang pada suku serumpun anak bukit barisan (istilah penulis) atau sering diistilahkan dengan Lagu Batang Hari Sembilan ini terdiri dari beberapa suku antara lain : Rejang, Besemah, Lahat, Ogan, Pagar Alam, Lintang dan daerah yang memiliki kemiripan bahasa degan dealek "e" contoh kata = tebu). (Anak semende dan gitar tunggal blog)


Wednesday, March 18, 2009

Bungei Sekedei Dance

Posted by Yayux at 6:37 PM 0 comments



This is the new creation dance from Rejang Land. Theme dance inspiration by the biggest parasite plant in the world. As we know, Rafflesia Arnoldii flower have habitat in many area of tropical rain forest in Rejang Land, Sumatra.

Sekedei in Rejang language meaning Rafflesia flowers, the Queen of Parasite.

Rafflesia flowers first time found by Resident Bencoolen name Sir Stamford Raffless and his assistan Arnoldi at Manna, South Bengkulu regency. To remind thats event the flowers given in taxonomi name as Rafflesia Arnoldi.


Credit photo by Andi Armanda






 

Millenium Fashion of World Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by FashionFashionFashion