Showing posts with label traditional ceremoney. Show all posts
Showing posts with label traditional ceremoney. Show all posts

Sunday, June 5, 2011

Rejang Obeisance (Sembea)

Posted by Yayux at 1:10 AM 0 comments
Depository document :
Professor Mervyn Aubrey Jaspan
The University of Hull, United Kingdom


[Palestine+Gaza.jpg]
[edit.jpg]
[rejang+2.jpg]
[edit.jpg]
[edit.jpg]
[edit.jpg]
[Palestine+gaza+5.jpg]
[palestine+gaza+5a.jpg]
[palestine+gaza+6.jpg]
[palestine+gaza+7.jpg]
[palestine+gaza+8.jpg]

Thursday, May 14, 2009

Opening Curup Town 129th Anniversary Ceremony

Posted by Yayux at 3:01 AM 0 comments
Today May 14th is Curup Town 129th anniversary. Curup town is capital city of rejang lebong regency, part of rejang land, Bengkulu province, located at south west sumatra island, Indonesia.

Curup Town 129th anniversary evet will be present with many acticivity in two weeks, begin at May 14 th and will be end at may 29th 2009.

This photo is taken recently as opening ceremony. Various exhibitions and cultural activities can be seen in the setia negara field as central activity. Before opening ceremony begin, as first activity, there are traditional dress carnaval following by 15 districts and institutions in the Rejang lebong regency. (Photo by Curup Kami)

Opening dance of rejangese, present for opening Curup town 129th anniversary

Performance traditional martial art of rejangese

Rejang lady`s (semulen jang), wear rejang dress in ceremony

Giant punjung consist of 1500 ibets

Fresh oven punjung witha few ibets

Traditional dress carnaval, health departement contingent

Eastern Curup district contingent traditional dress carnaval


Waiting for chief of Rejang Lebong regency coming for open ceremoney

Presentation betel nut for dedicate to Bupati as chief of Rejang Lebong regency, to open the ceremony event



Monday, May 11, 2009

Gerga - Land Storage after Taking Land at Tabot Ceremoney, Bengkulu, Indonesia

Posted by Yayux at 8:30 PM 0 comments
First Step Taking Land of Tabot Ceremoney in Bengkulu Province

In Bengkulu province, Sumatra Island, Rejang Land nearby Indonesia, there is famous ritual call as Tabot.

One scenes occur early this year Muharam 61 Hijriah in Padang Karbala. Husien troops Bin Ali bin Abi Talib one of the descendants of the Prophet Muhammad SAW troops battle against Yazid bin Muawiyah. Rhubarb is not balanced Husien eventually cause the body chopped ago.

Part of Husien`s body have exhibited around the city. Husien death be rememberance by the Syiah as a ceremony. Then be entrenched tradition and a part of the community called Tabot in Bengkulu.

Sepengal adegan ini terjadi awal bulan Muharam tahun 61 Hijriah di Padang Karbala. Pasukan Husien Bin Ali bin Abi Thalib salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW bertempur melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Perkelahian tidak seimbang menyebabkan Husien akhirnya dipancung lalu tubuhnya dicincang. Potongan tubuh Husien ditemukan lalu diarak keliling kota. Kematian Husien ini kemudian diperingati oleh kaum Syiah. Tradisi kemudian membudaya dan menjadi bagian masyarakat Bengkulu yang dinamakan Tabot.

There are a nine step in Tabot Ceremony, consist of :
a. Mengambik Tanah (Taking Land)
b. Duduk Penja (Cleaning Fingers, mencuci jari-jari)
c. Menjara (Mengandun)
d. Meradai (Collecting Fund, mengumpulkan dana)
e. Penja Procession (Arak Jari-Jari, arak penja).
f. Turban Procession (Mengarak Sorban)
g. Gam (Calm/ Mourning, tenang berkabung)
h. Gedang Procession (Taptu of Akbar, arak gedang)
i. Tabot Tebuang (Tabot Terbuang, membuang tabot)

Gerga Panglima at Kampung Bali (photo by Cucu Yudhistira)
Land storage from taking land of Tabot Ceremony, Bengkulu

Mengambik Tanah (Taking Land)

Taken land has to contain magical element, therefore it has to be taken from sacred places. There‘s only two places assumed as the sacred places in Bengkulu, keramat tapak padri that is located in waterfront, nearby to the Marlborough fortress in the right corner of Bengkulu harbor, and Keramat Anggut which is located in public funeral of Pasar Tebek nearby monument of Hamilton, nearby to the coast of Nala. This ceremony takes place at night of 1 Muharam at around 22.00 p.m.

The taken land is stored in Gerga (center of activities/ group station of Tabot), formed like human being doll, and wrapped with white winding sheet, then put down in Gerga. The eldest Gerga in Bengkulu are only two, those are Gerga Berkas (Bind) and Gerga Bangsal (Barn). Both have been renovated and now they become a permanent building.

At both places, they put offering (sesajen) in the form of: red and white mushes, demerara, 7 sheets of sirih, 7 bars of smoke nipah, a cup of black coffee, a cup of irrigate serbat, a cup of curd (ox milk of murni raw), a cup of sandalwood water, a cup of sweet basil and water.

Upacara Pengambilan Tanah dilaksanakan pada malam hari sebelum tanggal 1 Muharram, sekitar pukul 20.00 WIB (setelah shalat Isya). Upacara Pengambilan Tanah dilakukan di dua tempat, yaitu di Pantai Nala dan Tapak Paderi. Upacara ini diartikan sebagai peringatan atau mengenang kembali manusia yang pada awalnya diciptakan dari tanah dan nantinya akan kembali menjadi tanah. Upacara ini dilengkapi sesajen berupa bubur merah, gula merah, sirih tujuh subang, rokok tujuh batang, air kopi pahit, air serobat (air jahe), air susu sapi murni, air cendana dan air selasih. Sesudah sesajen didoakan, diambil tanah dua kepal, sekepal diletakkan di Gerga (di ibaratkan benteng) dan sekepal lainnya dibawa pulang untuk diletakkan diatas Tabot yang akan dibuat.

Lokasi itu hanya ada dua di Bengkulu, yakni Keramat Tapak Padri, yang terletak di tepi laut tidak jauh dari Benteng Marlborough di sudut kanan Pelabuhan Laut Bengkulu; dan Keramat Anggut yang terletak di perkuburan umum Pasar Tebek dekat Tugu Hamilton, tak jauh dari Pantai Nala.

Tanah yang diambil disimpan di Gerga (pusat kegiatan/markas kelompok tabot bersangkutan), dibentuk seperti boneka manusia dan dibungkus dengan kain kafan putih, lalu diletakkan di Gerga.

Gerga tertua di Bengkulu hanya ada dua, yaitu Gerga Berkas dan Gerga Bangsal. Keduanya telah direnovasi dan kini berwujud bangunan permanen.


Thursday, February 5, 2009

Tari Penyambutan, di Acara Pernikahan Suku Rejang. Welcoming Dance of Rejang Tribe in Wedding Ceremony

Posted by Yayux at 5:22 PM 0 comments


credit video :
Andy Armanda

Thursday, January 22, 2009

Tempung Ngenyan Ngen Semanten (Prosesi Pernikahan dan Pemberian amanat ke Pengantin cara adat Rejang)

Posted by Yayux at 3:54 AM 0 comments
Posted by D.tutandi Indra ( Andy )
Radio Four 106’7 Curup


Ngenyan ngen penganten Mikeak ngen melei fetweak


Sebelum agama islam masuk kedaerah tanah rejang,peresmian pernikahan sebagaiberikut:
Untuk melaksanakan pernikahan (kemtuk) terlebih dahulu oleh alim pedito atau dukun (gustei/piawang) memperhitungkan menurut secara kuno hari baik, bulan baik, baru dapat di laksanakan peresmian.Pada hari peresmiannya piawang berdiri diatas tangga menghadap ke halaman, kedua penganten tegak tehadapan gustei,juga menghadap ke halaman,kedua orang tua penganten berdiri kiri kanan.persiapan alat-alatnya berada di sebelah gustei.(beras kunyit,air dalam bambu,jeruk nipis,setawar sedingin,rotan panjang 2 meter,induk ayam lagi sedang mengeram,telur ayam sebiji,petik,bakul siri adat,perasapan mengembul asapnya,kain tenun selembar.Dihalaman tegak berdiri tua-tua,sanak famili,bujang gadis,cerdik pandai alim pedito, laki-laki perempuan menghadap ketempat kedua penganten.Piawang mulai membakar kemenyan serta mantra-manteranya,dengan didahului menceritakan asal usul manusia sejak dari nabi adam dan hawa sampai turun ke bumi,menguraikan pula soal-soal adat lembaga.

Dukun/ piawang muloi mbigo menepung, si kemeliak ketekeracok dik ade, jibeak sapei kuang. Amen si sisip lak nadeak, amen si kuang lak si tanembeak. Amen bik genep, mako piawang/ dukun tempung semanten ngen ngenyan, cakto ne:

  • 1. Muloi mengecek minai redho Allah Subhanawata’ala, kerno lak tempung semanten ngen ngenyan.
  • 2. Mbem kemnyen madeak keturuak magea pengetuwai, magea arwah guau. Magea walei semilan Diwo 7 (tojoak), madeak keturuak magea mulo jijai, lajeu kulo madeak/ jemuriak baso neak lem menok medeu yo nano. Adat ca’o ne ade; iben, bungai, punjung monok bi’ing. Wakteu mbem kemnyen o lajeu ba si masep langea, masep setabea. Asep kemnyen nelayang, belas kenunik nambua, ngut sudo kecek ne.
  • 3. Amen mbem kemnyen bik sudo, lajeu ba dukun/ piawang madeak kecek menepung sa’ei ne:

BISMILLAHIRROHMANIRRAHIM
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLAHI WABARAKATUH

TEPUNG SETABIK NGEN BUMAI LENGET,
SETABIK NGEN LUWENG KELMEN,
SETABIK NGEN MULO JIJAI,
SETABIK NGEN TANEAK TANAI,
SETABIK NGEN DIWO TOJOAK WALEI SEMILAN,
SETABIK NGEN PESIREAK ULAU LUREAK,
SETABIK NGEN KUTAI SADEI YO,
BILAI YO BILAI BETUWEAK BAIK BULEN,
KUMU DEW YO KEMLEAK TITIK DUWAI YO JE BESANDING MADEP ITE.

Eeeeee………
KE SO KEMIPI SETAWAR,
SETEPUNG DIWO KUNDEI LENGET SELIBAR PAYUNG,
TEPUNG DUATE SERAPANG REMAS,
TEPUNG DIWO SERAMBUT PANJANG,
TEPUNG DIWO SETANGGAI PANJANG,
TEPUNG DUATE SERAMBUT REMAS,
KUSA KUNDEI BINGIN KUNING SUSANG,
TEPUNG DIWO NUMBELAS TALEN,
TEPUNG DIWO MATAI BILAI,
TEKO TEMPUNG.
KEDUWAI SEMATEN NGEN NGENYAN,
UDI SEMATEN NGEN NGENYAN BARAT SPINDE KACI,
PUTIAK TE’US BEPATIK ATI,
IJO KUNING AGAI NE NATI,
MILEAK MELEU ATI NEAK DI.

ANJUK ALANG SERTO MANAT,
LEPOK KU AGAI PEGONG KEDONG BILAI,
LEPOK KU PATIK DALEN MOI BAIK,
UNJUK JANJAI TENEGOK SUPEAK SEMAYO MEKET LAHIR BATIN JANJAI IDUP SEMATEI,
SETIO MBEAK BUBEAK,
BELEKET MBEAK MAEP BELEK,
NIKEAK MBEAK MAIN-MAIN,
GONG MANAT JIBEAK MUKER JANJAI SEMAYO BESAMO,
BAIK ADEP,
SA’O BASO,
TITIK NUSIK,
LAI NBASO DE TUAI NEGO.

KE DUWAI,
LOK BA DE KLOK DE KELALOK,
DEPEMICANG DE PEMANEW,
DEKEMBUK DEPEMANGEN,
TEGO SAMO MEDAKI,
MENUNGAS SAMO-SAMO TIMBOA,
TENDEM SAMO-SAMO TEBENEI APAI,
MONOT SAMO-SAMO MUSUNG,
PICANG SAMO JA’ANG,
MELUPAT SAMO KE’UAK,
MENGINDOI SAMO-SAMO SESET,
TAWAI SAMO-SAMO TEKARAK

KE TELAU,
LOK BA UDI NAMEN TAI UJEN PENES PEMAIN BILAI,
SENANG PESET PEMBIN IDUP,
ANGIN NGEN UMBOK PEMBIN LAUT,
LOK BA NAMEN TAI TANGIS IDUP NGEN TANGIS MATEI,
LOK BA NAMEN TAI BIDUK KEMUDAI DUWAI,
LOK BA NAMEN TAI LAI PASOK KUNDEI TIANG,
LOK BA NAMEN TAI TAJAI BEKENEK,
BIYOA MATAI TUUN,
LOK BA NAMEN TAI TEMPOK BIYOA NAK DULANG,
LOK BA NAMEN TAI LENGAN TANGEN,
JELAS PEMICANG,
LOK BA NAMEN TAI TIDUA NEAK KASUA LISEAK,
TIDUA NEAK KLAK POONG,
LOK BA NAMEN SEBNEK BNEK MATAI MANDANG BNEK KUNDEI BAU MUSUNG.

KE PAT,
MBEAK MECUT KUDO MENGACAP,
MBEAK SMILAI LAUT,
MBEAK CEMICIK GEROMBONG TEDUNG,
MBEAK KEMAIT PAING DIK AKO,
MBEAK BEPANEU LUWEA DALEN,
MBEAK BESULUAK TEKELAT TEI,
MBEAK BETANEM SOA TEMBANG BANIA,
MBEAK MUKUS TELAN NGEN DAWEN,
MBEAK MENGIKAK NGEN TIKUS MBEM TUOA,
MBEAK UMEAK TIGING TEMTOK TIANG.

KE LEMO,
MBEAK UDI TEMTOK TILAI PENAN BEGATUNG,
MBEAK KEMAPOK DAN TENINGIA,
REMBOK GABOK MBEAK UDI MATIAK,
RAMBOK GETTING UDI MUTUS SEMBEAK,
BUK NICIK TUJUAK TENINGGEA KUNE GEN DALEN UDI MENGULANG APEI.

KE ENUM,
DIO UNJUK KU,
PETUWEAK SERTO MANAT,
UNJUK KU SULUAK PEMANEU KELMEN,
UNJUK KU SENYATAI PEGONG KEDONG BILAI,
UNJUK KU PETUWEAK MBEAK SALEAK LAKEAK,
UNJUK MANAT BAGAI SERIAT.

KE TUJUAK,
KUTE ITE SEDAYO DIK RAPEK,
JANO IGAI DIK TUWAI BIK DAU NIDEP NGEN PENGELIAK,
KALAU MBEAK ADE KEDONG BILAI ITE TEDENONG TEKELIAK ADE DIK RUCUAK,
MBEAK MUJO EKET NE PUTUS PENGA ‘ANG,
RENYENG NE COA SUDO SU’ ANG,
AMEN ADE BIDUK NE KELBAU,
MBEAK MUNYAU,
RENYENG NE COA SUDO SU ‘ANG,
BIDUK COA NAM KELBAU DETOK-DETOK.

KE DELAPEN,
AMEN ADE KEDONG BILAI MUPOK UDI KEDUWAI SEMATEN,
TELANGGEA PETIK SALEAK SU’ANG,
KAGEA GACANG SADO DIK TUWAI,
KINO LANGIA NGEN IDAU JAPAI.

MAAF KUTE SEDAYO DIK RAPEK, UKU PELON PENYAYO SADO DIK TUWAI,
SERTO SEMAPEI PENGINGET KUNDEI PENGETUWAI,
MULO JIJAI,
NGEN KEPIUAK KEPITING NE,
KESUMBING MBAR UJUNG ASEP,
ROYOT UJUNG TILAI,
SINDANG UJUNG PAKOA,
MLANG JIJAI ANOK UBET ATEI……

ALHAMDULILLAHIRABBIL ‘ALAMIN……….
WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLAHI WABARAKATUH


Setelah prosesi wejangan menepung,piawang meminta kepada orang tua dan sanak famili dari pengantin pria serta wanita untuk melangir dan setelah itu setawar sedingin sebagai penutup dari prosesi tersebut.

Sumber :
• Buku Ireak Ca’o Kutei Jang 2004,Kadirman .SH
• Buku Asal mula Adat Bimbang di Tanah Rejang1954.A.Sani


Tuesday, January 20, 2009

Acara Ngenjalang di Kaur Bengkulu

Posted by Yayux at 10:39 PM 0 comments
Ngenjalang, Adalah acara setahun sekali di adakan di setiap desa di daerah Kaur, biasanya setiap satu hari dari lebaran. Di sini semua warga wajib berkumpul di tempat pemakaman warga untuk membersihkan makam sekaligus memanjatkan doa untuk para leluhur desa, setiap warga diwajibkan membawa makanan seadanya.

Source :
http://saswin.wordpress.com


Monday, December 29, 2008

Adat dan Upacara Perkawinan Suku Rejang

Posted by Yayux at 6:40 PM 0 comments
Category:Culture
Genre: Wedding ceremoney
Author:Musiardanis


Bagi suku Rejang perkawinan mempunyai beberapa tujuan. Tujuan suatu perkawinan adalah :

  • a. untuk mendapatkan teman hidup dan memperoleh keturunan, yang disebut Mesoa Kuat Temuun Juei;
  • b. untuk memenuhi kebutuhan biologis, hal dimaksudkan agar kaum muda dapat terhindar dari perbuatan tercela;
  • c. memperoleh status sosial ekonomi. Bagi suku Rejang bujang dan gadis belum merupakan orang kaya ( coa ade kayo ne) oleh karena itu mereka harus kawin, setelah kawin mereka akan bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memupuk kekayaan bagi keluarga mereka sendiri.
Pengantin Rejang dari turunan bermani ix

Suku Rejang juga memiliki suatu pandangan mengenai perkawinan yang diinginkan (ideal). Perkawinan seperti ini kebanyakan diukur dari kondisi calon pengantin, baik laki maupun perempuan. Perempuan yang baik untuk menjadi isteri apabila dia memenuhi berbagai persyaratan, yang pada dasarnya menunjukkan perilaku yang baik dan pandai mengatur rumah tangga. Persyaratan-persyaratan tersebut antara lain adalah : baik tutur katanya; pandai mengatur halaman rumah dan bunga-bunga di pekarangan; pandai menyusun/mengatur kayu api (semulung putung); bagus bumbung airnya (lesat beluak bioa); dan mempunyai sifat pembersih.

Sedangkan bagi kaum laki-laki, syarat-syarat yang harus dipenuhi menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berilmu-pengetahuan dan berketerampilan. Syarat-syarat bagi laki-laki tersebut antara lain adalah : banyak ilmu batin dan pandai bersilat; pandai menebas dan menebang kayu; pandai membuat alat senjata dan alat-alat untuk bekerja.

Selain itu dalam adat suku Rejang juga diatur larangan untuk kawin bagi anggota suku tersebut. Secara adat, orang Rejang dilarang kawin dengan saudara dekat, sebaiknya perkawinan itu dilakukan dengan orang lain (mok tun luyen). Perkawinan dengan saudara dekat dianggap merupakan suatu perkawinan sumbang, yang mereka sebut Kimok (memalukan/menggelikan). Perkawinan dengan sesama famili disebut kawin Sepasuak dan perkawinan dengan saudara yang berasal dari moyang bersaudara (semining) disebut Mecuak Kulak. Perkawinan Sepasuak dan Mecuak Kulak ini merupakan perkawinan yang dilarang, namun demikian apabila tidak dapat dihindarkan maka mereka yang kawin didenda secara adat berupa hewan peliharaan atau uang, denda seperti ini disebut Mecuak Kobon. Jenis perkawinan lainnya yang dilarang secara adat adalah perkawinan antara seorang pria atau wanita dengan bekas isteri atau suami dari saudaranya sendiri, apabila saudaranya tersebut masih hidup.

Bentuk-bentuk perkawinan dalam adat suku Rejang berhubungan erat dengan peristiwa atau kejadian sebelum perkawinan tersebut dilaksanakan. Bentuk-bentuk perkawinan tersebut adalah :

a. Perkawinan biasa, yakni perkawinan antara pria dan wanita yang didahului dengan acara beasen (bermufakat) antara kedua belah pihak.

b. Perkawinan sumbang, yakni perkawinan yang dianggap memalukan. Misalnya karena sang gadis telah berbuat hal-hal yang memalukan (komok) sehingga menimbulkan celaan dari masyarakat atau perkawinan yang dilakukan oleh sesama saudara dekat.

c. Perkawinan ganti tikar (Mengebalau), yaitu perkawinan yang dilakukan oleh seorang laki yang isterinya telah meninggal dengan saudara perempuan isterinya, atau dengan perempuan yang berasal dari lingkungan keluarga isterinya yang telah meninggal tersebut.

Upacara perkawinan dalam adat suku rejang mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu upacara sebelum perkawinan, upacara pelaksanaan perkawinan dan upacara setelah perkawinan. Oleh sebab itu, perkawinan dalam suku Rejang terdiri dari :

a. Upacara sebelum perkawinan, yang terdiri dari :

  • 1) Meletak Uang, yaitu upacara pemberian uang atau barang emas yang dilakukan oleh kedua calon mempelai di rumah si gadis, dengan disaksikan oleh keluarga kedua belah pihak. Maksud upacara ini adalah memberi tanda ikatan bahwa bujang dan gadis tersebut sudah sepakat untuk menikah.
  • 2) Mengasen, yaitu meminang yang dilakukan di rumah keluarga si gadis.
  • 3) Jemejai atau Semakup Asen, yaitu upacara terakhir dalam peminangan yang merupakan pembulatan kemufakatan antara kedua belah pihak. Tujuan upacara ini adalah untuk : meresmikan atau mengumumkan kepada masyarakat bahwa bujang dan gadis tersebut telah bertunangan dan akan segera menikah; mengantar uang antaran (mas kawin), dan menyampaikan kepada Ketua Adat mengenai kedudukan kedua mempelai itu nantinya setelah menikah.

b. Upacara Pelaksanaan Perkawinan, terdiri dari :

Upacara pelaksanaan perkawinan pada suku Rejang pada umumnya terdiri dari dua macam upacara, yaitu Mengikeak dan kemudian diikuti dengan Uleak. Mengikeak adalah upacara akad nikah dan upacara Uleak adalah pesta keramaian perkawinan. Pelaksanaan Mengikeak biasanya dilaksanakan di tempat pihak yang mengadakan Uleak, namun demikian berdasarkan permufakatan bisa saja mengikeak dilaksanakan di rumah mempelai pria dan Uleak dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Dalam permufakatan adat hal seperti ini disebut : Mengikeak keme, uleak udi artinya menikah kami merayakannya kamu.

c. Upacara Sesudah Perkawinan, terdiri dari :

Pada zaman sekarang berbagai upacara sesudah pelaksanaan perkawinan tidak begitu diperhatikan lagi. Pada zaman dahulu setelah upacara perkawinan, dilakukan pula berbagai upacara yaitu :

  • 1) Mengembalikan alat-alat yang dipinjam dari anggota dan masyarakat dusun.
  • 2) Pengantin mandi-mandian, melambangkan mandi terakhir bagi kedua mempelai dalam statusnya sebagai bujang (jejaka) dan gadis.
  • 3) Doa selamat.
  • 4) Cemucu Bioa, yaitu berziarah ke makam-makam para leluhur.
  • d. Adat Menetap Sesudah Perkawinan.

Apabila akad nikah dan upacara perkawinan telah dilakukan, maka kedua mempelai itu telah terikat oleh norma adat yang berlaku. Kebebasan bergaul seperti pada masa bujang dan gadis hilang, dan berganti ke dalam ikatan keluarga di mana mereka bertempat tinggal. Status tempat tinggal (Duduk Letok) mereka ditentukan oleh hasil permufakatan yang telah diputuskan dalam upacara Asen.

Bagi suku bangsa Rejang ada dua macam Asen, yakni Asen Beleket dan Asen Semendo. Asen Beleket artinya mempelai perempuan masuk ke dalam keluarga pihak laki-laki, baik tempat tinggalnya maupun sistem kekerabatannya. Asen Beleket dibedakan lagi dalam dua macam Asen, yaitu Leket Putus dan Leket Coa Putus (tidak putus).

Pada Leket Putus, hubungan mempelai perempuan dengan pihak keluarganya diputuskan sama sekali. mempelai perempuan tersebut sepenuhnya menjadi hak keluarga pihak laki-laki. Apabila suaminya meninggal terlebih dahulu, maka perempuan tersebut tetap tinggal di lingkungan keluarga suaminya. Biasanya ia dinikahkan dengan saudara suaminya atau sanak saudara suaminya yang lain, tanpa membayar uang apa-apa dan ia tidak boleh menolak. Pada Leket Coa Putus hubungan mempelai perempuan dengan keluarganya tidak terputus sama sekali.

Pada Asen Semendo terdapat banyak variasi. Pada mulanya Asen Semendo merupakan lawan atau kebalikan dari Asen Beleket, yakni :

  • 1) Semendo Nyep Coa Binggur (hilang tidak terbatas), mempelai laki-laki masuk dan menjadi hak pihak keluarga perempuan sepenuhnya.
  • 2) Semendo Nyep/Tunakep (menangkap burung sedang terbang), mempelai laki-laki dianggap oleh keluarga pihak perempuan sebagai seorang yang datang tidak membawa apa-apa. Jika terjadi perceraian atau laki-laki tersebut meninggal terlebih dahulu maka semua hak warisnya jatuh kepada isterinya.
  • 3) Semendo Sementoro/Benggen (berbatas waktu), mempelai laki-laki pada awal kehidupan berkeluarga harus tinggal dalam lingkungan keluarga pihak mempelai perempuan, setelah itu dia bersama isterinya dapat tinggal dalam lingkungan keluarga asalnya atau membentuk lingkungan keluarganya sendiri.
  • 4) Semendo Rajo-Rajo, yaitu apabila kedua mempelai berasal dari dua keluarga yang sama kuat atau sederajat. Kedudukan dan tempat tinggal kedua mempelai setelah perkawinan diserahkan sepenuhnya kepada kedua mempelai untuk memutuskannya.
Bengkulu, 27 M e i 1996.



DAFTAR PUSTAKA :

1. Anonim; Adat Istiadat Daerah Bengkulu, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977/1978.

2. Anonim; Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Bengkulu, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebiudayaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995/1996.

3. Hamidy, Badrul Munir, Drs. et al; Isi dan Kelengkapan Rumah Tangga Tradisional Daerah Bengkulu, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1985.

4. Hamidy, Badrul Munir, Drs. et al; Upacara Tabot di Kotamadya Bengkulu, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991/1992.

5. Harfield, Alan; Bencoolen : A History of the Honourable East India Company's Garrison on the West Coast of Sumatra (1685-1825), A and J Partnership, 1995.

6. Hoesin, Kiagoes; Koempoelan Oendang-Oendang Adat Lembaga dari Sembilan Onderafdeelingen dalam Gewest Benkoelen, Sriwijaya Media Utama, 1993.

7. Soeprapto; 10 Tahun Menjebol Isolasi Bengkulu : Memori Serah Terima Jabatan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bengkulu Periode 16 Juli 1984 s/d 16 Juli 1989, Pemerintah Propinsi Daerah Tk.I Bengkulu, 1989.

8. Waluyo, Harry Drs.; Pola Penguasaan, Pemilikan dan Penggunaan Tanah Secara Tradisional Daerah Bengkulu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

9. Waib, Mardan Drs. et al; Wujud Arti dan Fungsi Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisonal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995/1996.

Credit photo : Bpk. Ade Bachtiar
 

Millenium Fashion of World Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by FashionFashionFashion