Tuesday, March 24, 2009
Thursday, February 19, 2009
Rhacophorus catamitus, frog endemic at Kaba Mountain, Rejang Land, Southern Sumatra
It was found in marshland areas in Gunung Tujuh and Renah Kayu Embun survey sites. The frog never found in the forest. Based on Harvey et al.(2002), this species occur s in forest of the Bukit Barisan range. Males were usually found on low vegetation near to fast moving streams or standing water. In Gunung Tujuh and Renah Kayu Embun, it occurred at elevation about 1400 meters asl. It has been collected at elevations between 600 to 1630 meters asl (Harvey et al., 2002). It was common species in Gunung Tujuh, but became scarce in Renah Kayu Embun. It is endemic frog in Sumatra. This species has been recorded from the Gunung Dempo, Sumatera Selatan, from Bukit Kaba, Bengkulu, from the Bukit Barisan range near Kepahiang, Bengkulu and from Tapan, Jambi (Harvey et al., 2002).
Barisan Tree Frog endemic Frog at Kaba Mountain, Rejang Land, Southern Sumatra
Barisan Tree Frog
This tree frog was found in Sungai Durian survey site. It inhabited slow movin g water of
stream bank in primary forest. The male were found sitting on vegetation 1-2 meters above deep pool where the stream flowed down. It was rare in Sungai Durian survey site. The type specimens have been collected from Bukit Kaba, Bengkulu, Sumatra and collected at elevations
67 of between 1440 meters asl (Harvey et al., 2002); however in Sungai Durian it was found at
elevation about 1000 meters asl.
Rhacophorus achantharrhena - Species Frog Endemic at Kaba Mountain, Rejang land, Southern Sumatra
Thursday, February 5, 2009
Legau Serdam - Lagu Seruling - Legenda terjadinya Kawa Gunung Kaba
Cerita Rakyat Rejang
![[5.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSN5-XT4XALgsieEcOboat6iazmCJ7jphmwExs_zX-iNhsC4ZW26KP5nY2g8rFl5n1Dn7cMaW_h3l89Ja9H7LzLMCb9dYOF4Dk1sb9xvxRdR2F464RThZOuC3MteCa4llTxUSZx-CSVNAQ/s1600/5.jpg)
Dalam sebuah dusun di Renah Sekelawi ada seorang pemuda bernama Sutan Indah. Ayahnya bernama Ratu Panjang, seorang kepala dusun yang di segani dan dihormati oleh rakyatnya.
Sutan Indah sangat pemalas. Ia tidak pernah membantu ayahnya berkerja di sawah dan di ladang. Oleh sebab itu ia tidak diacuhkan oleh ayahnya, meskipun ia adalah anak tunggal. Hanya kepada ibunya sajalah Sutan Indah berani mengadu. Ayahnya sibuk dengan sawah dan ladang serta sibuk memikirkan kesejahteraan kampungnya.
Setiap hari Sutan indah menelusuri tebing sungai memperhatikan ikan-ikan yang berenang dalam air. Ia duduk di atas batu, memperhatikan burung-burung meloncat dari dahan ke dahan di atas ranting dan di dalam semak belukar di sekelilingnya. Ia mengamati tupai jantan dan betina bergelut di batang bambu, yang ujung daunnya menjuntai menyapu air yang deras dan mengalir di sela batu-batu. Kalau hari terasa panas Sutan Indah terjun ke dalam air berenang ke sana ke mari, sambil bersiul kecil dengan lagunya sendiri.
Pada suatu hari, ketika Sutan Indah sedang berjalan-jalan di pinggir sungai, ia melihat sepotong bambu hanyut dibawa arus. Anehnya di atas bambu sebesar telunjuk itu, bertengger seekor burung camar. Dengan tidak di sangka, bambu itu menepi sendiri dan mendekat ke Sutan Indah. Lebih aneh lagi, burung camar tidak mau terbang. Sutan Indah berusaha memungut bambu itu dan juga burung camar yang jinak tersebut lalu dibawanya pulang.
Pada mulanya Sutan Indah bermimpi. Dalam mimpinya ia didatangi oleh seorang bidadari yang sangat cantik dan berkata, "Sutan Indah, buatlah olehmu sebuah serdam (bahasa rejang = seruling) dari bambu yang kau dapati dari sungai kemarin, sedangkan burung itu disembelih dan tanakkan minyaknya. Minyaknya kau lumurkan pada serdammu itu, keringkan selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Aku ingin sekali mendengar bunyi serdammu itu Sutan Indah".
Sutan Indah terjaga dari tidurnya, dan berusaha mengingat mimpinya itu.
Keesokan harinya dibuatnyalah sebuah serdam dari bambu yang didapatinya di sungai kemarin itu.
Tiga hari lamanya ia membuat serdam itu, dengan berhati-hati sekali jangan sampai pecah atau retak sedikitpun. Burung camar penyerta bambu tersebut dipotongnya, lalu dimasak dan diambil minyaknya. Minyak burung tersebut digosok-gosokkannya pada serdam yang baru selesai dibuatnya itu. Empat puluh hari dan empat puluh malam serdamnya dianginkan, sesuai petunjuk bidadari dalam mimpinya itu.
Kiranya bambu itulah yang disebut orang buluh perindu, dan rupanya kehendak Tuhan, buluh perinda itu dapat saja melawan arus sungai atau disebut orang hanyut ke hulu. Demikian kesaktian buluh perindu itu, menurut cerita orang-orang tua, apabila buluh perindu itu ditiup, maka suaranya sampai ke kayangan.
Setelah empat puluh hari kemudian, Sutan Indah mencoba serdamnya. Maka timbullah bermacam-macam lagu yang menyayat hati. Ketika orang sedang bekerja, terdengar alunan serdam Sutan Indah, maka berhentilah mereka bekerja, terpukau ketika mendengarnya. Pendeknya, siapa yang mendengar himbauan serdam Sutan Indah terlenalah ia dari pekerjaannya, sampai kepada ibu-ibu yang sedang memasak di dapur berhenti bekerja, sehingga hanguslah nasi tanakannya. Para gadis remaja yang sedang menjaga jemuran padi, lalu termenung, dan tidak diketahui mereka bahwa padinya hampir habis dimakan ayam dan itik.
Orang banyak bertanya-tanya, dari manakah asal bunyi serdam seperti itu. Belum pernah mereka mendengar bunyi serdam seindah itu. Akhirnya orang mengetahui serdam itu adalah milik Sutan Indah anak Ratu Panjang yang tunggal itu.
Lama kelamaan setiap orang yang mendengar bunyi serdam Sutan Indah, terbengkalailah pekerjaannya. Kalau mendengar bunyi serdam itu di malam hari terjagalah mereka dari tidurnya, terutama para bujang dan dara, timbul rasa birahi satu dengan lainnya, berkhayal sepanjang malam, gelisah tak tentu perasaan, mabuk dalam asmara. Hal ini menjengkelkan orang tua Sutan Indah. Berapa kali ayahnya melarang Sutan Indah meniup serdam itu, tetapi tidak dipedulikannya. Ketika sampai pada puncak kemarahannya, lalu diusirnyalah Sutan Indah. Dengan berat hati Sutan Indah mengkahkan kakinya pada malam itu juga, tanpa setahu ibunya.
Pergilah Sutan Indah meninggalkan kampung halamannya, kedua orang tuanya, sanak saudaranya. Pergilah ia dengan serdam buluh perindunya, mengembara menurut langkah kakinya. Kadang-kadang naik bukit turun bukit, kadang-kadang menuruti aliran sungai yang ditemuinya. Kalau terasa penat kakinya, berhentilah ia di bawah naungan pohon-pohonan. Sebelum memejamkan matanya, ditiupmya dahulu serdamnya. Mengalunlah lagu-lagu sedih yang memilukan hati, siapa yang mendengarnya. Alunan serdam Sutan Indah, kiranya terdengar juga sampai kayangan, dibawa angin lalu, sehingga termenunglah para bidadari, dan ada yang ingin turun ke bumi.
Dalam pengembaraan Sutan Indah, tibalah ia di suatu tempat di sebuah bukit. Berhentilah ia di bawah sebuah pohon yang rindang daunnya. Kiranya Sutan Indah berada di kaki sebuah bukit yang merupakan kaki langit alam kayangan. Disitu sering turun para bidadari kalau akan ke bumi, dan juga tempat bermain-main setiap bulan terang. Bukit ini dijaga oleh seorang peri yang sedang beranak bayi. Setiap hari sang peri ini pergi ke kebun di lereng bukit itu. Malam hari barulah berada di pondoknya kembali. Selama ia pergi ke kebunnya,bayinya selalu di jaga oleh seorang bidadari yang diutus dari kayangan secara bergiliran. Hari itu yang menjaga bayi sang peri adalah giliran Krikam Manis yang sangat cantik rupanya, jika dibandingkan dengan yang lain. Ketika ia menjaga bayi sang peri, terdengarlah olehnya bunyi serdam Sutan Indah. Termenunglah ia ketika itu dan ingin sekali melihat siapa peniupnya. Katanya dalam hati, "Apakah ini yang disebut orang tuanya bulu perindu". Dengan tidak disangka saat itu, terlepaslah sang bayi dari pangkuannya, jatuh ke dalam jurang bukit itu. Dari dalam jurang itu keluarlah api yang besar menandakan kemarahan dewata, ditambah bau angit karena daging bayi yang terbakar.
Setelah menyadari hal ini, bingunglah Krikam Manis dan timbullah takutnya. Sudah pasti kalau sang peri kembali nanti malam, ia akan dibunuh. Kalau kembali ke kayangan, sudah tentu akan menerima hukuman yang berat. Larilah ia dari tempat itu jauh-jauh, menuju kebawah, kearah mana suara serdam yang menyebabkan malapetaka itu.
Bunyi serdam makin lama makin jelas kedengaran olehnya. Sampailah ia di suatu tempat dekat sebatang kayu besar lagi rimbun daunnya. Tampaklah olehnya seorang pemuda sedang duduk dibawahnya sedang meniup serdam.
Ketika Krikam Manis berada di depan pemuda itu, yang tak lain dari Sutan Indah yang terusir itu, Sutan Indah sangat tercengang melihat Krikam Manis yang sangat cantik itu. Ia merasa tidak percaya kepada apa yang dilihatnya, bahwa seorang gadik berada di tengah hutan, yang belum pernah didatangi manusia. Ia teringat pula akan mimpinya pada waktu ia mendapatkan bambu hanyut dahulu. Ia membandingkan wajah putri dalam mimpinya, sama dengan wajah gadik yang berada di hadapannya itu. Setelah lama saling berpandangan itu, berkatalah Sutan Indah, "Siapa kamu ini wahai putri? Mengapa berada di sini? Siapa temanmu, apakah kamu seorang diri?". Krikam Manis menjawab, "Aku adalah seorang bidadari penjaga anak peri penunggu bukit ini. Aku lari kesini karena aku telah menjatuhkan anaknya, karena aku lengah ketika mendengar bunyi suara bulu perindu. Mungkinkah bulu perindu itu adalah buluh perindu yang engkau pegang itu?"
"Benar tuan putri. Kalau begitu akan kubuang serdam ini".
"Jangan tuanku. Aku senang mendengarnya. Coba tuanku lagukan sebuah lagu untuk menghibur ketakutanku ini".
"Jangankan sebuah lagu, lebih dari itu aku akan melagukannya".
Akhirnya kedua makhluk itu bersahabat, pergi bersama-sama menurut kehendak langkah kaki mereka. Krikam Manis merasa seperti mendapat perlindungan dari seorang jejaka. Demikian Sutan Indah dapat melupakan kesedihannya berpisah dari kedua orang tua dan kampung halamannya. Sutan Indah berjanji akan melindungi Krikan Manis, dari segala bahaya.
Selama pergaulan mereka, dan selama pengembaraan mereka, tak tentu arah tujuan, belum terlukis dan terlintas perasaan aneh dalam diri Sutan Indah. Tetapi sebaliknya, Krikam Manis telah mempunyai rasa simpati yang mendalam, bahkan lebih dari itu, sebagai naluri seorang gadis yang telah memiliki jiwa kemanusiaan, dan sudah melepaskan diri dari alam kedewaan. Dunia ini dirasakannya indah sekali selama berdampingan dengan Sutan Indah yang gagah lagi tampan itu. Terlebih lagi kalau Sutan Indah telah bersenandung dengan buluh perindunya itu. Tenang dan damai rasa di hati Krikam Manis. Hilang segala ketakutan dan kecemasan, kesedihan dan kerinduan akan alam kayangan yang telah ditinggalkannya.
Akhirnya mereka sampai pada suatu tempat, disebuah batu yang agak lebar. Di situlah mereka berhenti dan duduk beristirahat. Tak jauh dari tempat itu terdapat mata air yang panas dan dihilirnya terdapat pula dua muara sungai yang lubuknya agak dalam. Disitulah Krikam Manis menyejukkan badannya.
Sutan Indah mulai meniup serdamnya. Dari lagu ke lagu, yang sulit diartikan oleh orang biasa, merupakan untaian isi hatinya. Krikam Manis merasakan arti tiupan bulu perindu Sutan Indah itu. Tak dapat ia ungkapkan dengan kata-katanya, hanya lewat pandangan matanya tertuju kepada Sutan Indah, seolah olah mengharapkan perngertian Sutan Indah. "Marilah kita ciptakan dunia ini seindah mungkin". Bisik hati Krikam Manis.Kiranya Sutan Indah demikian pula halnya. Tetapi ia belum sanggup dan belum berani melahirkan isi hatinya yang sudah lama terpendam, sejak pertemuannya yang pertama sesuai pula dengan impianya dahulu. Kadang-kadang ia terkenang kepada ibunya yang ia tinggalkan pada malam hari keberangkatannya dari rumah. Ia tidak sempat berpamit kepada ibunya. Kadang-kadang terasa ingin pulang menjenguk ibunya sebentar. Bagaiaman Krikam Manis? Tak mungkin dibawanya serta. Ia takut kepada ayahnya yang mungkin masih dendam kepadanya. Berkatalah ia kepada Krikam Manis pada suatu malam yang indah,"Adinda Krikam, aku senang sekali menyaksikan kedua benda di atas langit pada malam ini. Yang satu bulan yang satu lagi bintang yang sangat terang itu.Bila kulihat kedua benda itu, aku rindu sekali kepada sang bulan dan aku cinta sekali kepada sang bintang itu".
"Apa maksud kakanda Sutan terhadap kedua benda itu. Siapa yang bulan siapa yang bintang yang paling terang itu?".
"Ada kau dengar lagu dalam serdamku itu Krikam?".
"Betul kakanda".
"Nah adinda. Aku merindukan ibuku, yang kutinggalkan beberapa bulan lalu. Dan aku cinta kepadamu adinda Krikam". Kemudian berkata kembali Sutan Indah dengan lemah lembut,"Adinda Krikam, jika adinda izinkan aku akan menemui ibuku sebentar, untuk menyampaikan berita gembira ini kepada ibu, bahwa aku akan segera menyuntingmu adinda. Aku bukan tak ingin membawamu serta, tetapi aku takut kalau ayahku yang bengis itu lebih marah lagi kepadaku dan kepada kita berdua. Aku sayang sekali kepadamu, jadi lebih baik adinda tinggal di sini sebentar. Pondok ini sudah cukup kuat bagimu untuk berlindung dari gangguan binatang buas". Krikam tidak berkata sepatah pun.
Keesokan harinya, Sutan Indah berangkat menuju kampungnya. Tinggallah Krikam Manis seorang diri.
Setelah sampai di kampungnya, bertemulah Sutan Indah dengan ibunya. Ibunya sangat gembira sekali, apalagi setelah mendengar cerita Sutan Indah, bahwa ia akan menyunting seorang bidadari dari Kayangan. Demikian pula ayahnya, sudah tidak marah lagi kepada Sutan Indah yang telah kembali itu. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa Sutan Indah telah beristri. Malah disesalkannya sekali mengapa Krikam Manis tidak di bawah sekali.
Malam itu juga ayah Sutan Indah mengerahkan orang kampung untuk menjemput Krikam Manis. Gajah mena tela disiapkannya. Obor dinyalakan. Sebanyak empat puluh orang penjemput Krikam Manis.
Ibu Sutan Indah ikut juga, didampingi Sutan Indah. Ayahnya berada di depan sekali mengepalai rombongan.
Ketika ayam berkokok, tibalah rombongan di hutan dekat pondok Krikam Manis. Krikam terkejut sekali melihat nyala obor yang banyak sekali. Dari jauh terlihat olehnya rombongan orang yang banyak itu. Timbul takutnya, apalagi melihat orang yang di depan sekali sudah tua dan besar badannya serta membawa golok.
Krikam tidak melihat Sutan Indah, karena Sutan Indah masih berada di belakang rombongan, karena sedang tertatih-tatih memapah ibunya.
Krikam Manis menyangka oranga banyai itu akan berbuat jahat kepadanya dan mungkin pula ayah Sutan Indah yang akan menghukumnya. Demikian pula dikiranya bahwa Sutan Indah telah dihukum lebih dahulu oleh ayahnya. Dengan tidak berpikir panjang lagi melompatlah Krikam Manis dari pondoknya melarikan diri ke dalam hutan menerobos kegelapan malam.
Rombongan sampai di pondok Krikam Manis, tetapi ia tidak ditemui lagi. Yang tinggal hanyalah secarik perca bekas sobekan selendang Krikam Manis yang tersangkut di pintu pondok, sebagai tanda bukti kebenaran Sutan Indah akan kata-katanya. Semua penjemput merasa kecewa, apalagi Sutan Indah yang merasakannya. Rombongan kembali ke kampung pagi itu. Sutan Indah pergi pula tak menentu arahnya, untuk mencari Krikam Manis.
Disuatu tempat di dataran tinggi yang luas, Sutan Indah berhenti di bawah sebatang pohon yang rindang. Tak disadarinya serdam diangkatnya ke atas bibirnya, sambil airmatanya berlinang-linang, mengalunkan rangkaian lagu kesedihan bercampur kekecewaan dan kepatahan hati
Berhari hari lamanya.
"do legau alau moi das lenget,
duai legau ngan Ratu Panjang
tlau legau ngan Krikam Manis . . . ."
Lagu pertama ini ku persembahkan ke atas langit, untuk para dewa, keluarga Krikam Manis dengarlah. . . .
Lagu kedua kusampaikan kepada ibuku dan bapakku Ratu Panjang, dan
Lagu ketiga untukmu sayang, dimana saja kau berada, dengarlah. . . . dengarlah. . . .
Demikianlah hingga saat ini bila kita mendengar serdam di malam hari, teringat akan kisah Sutan Indah anak tunggal Ratu Panjang, bernasib malang. Hingga saat ini nasib Sutan Indah tiada diketahui lagi.
Hanya tinggal legendanya saja berupa bukit Kaba yang berkawah (Gunung Kaba dengan kawah aktip di puncaknya). Kawahnya terjadi karena telah menelan anak Peri yang terjatuh dari pangkuan Krikam Manis.
Suban air panas beserta kedua muara sungai di hilirnya adalah tempat peristirahatan Sutan Indah dan Krikam Manis yang sedang dalam kegembiraanya dahulu.
Dan menurut cerita pula, dataran bukit Seblat sebelah utara merupakan perhentian terakhir pengembaraan Sutan Indah
Reference:
Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
Informan Ibnu Hajar (48th -1981), desa Muara Aman.
Di tulis oleh Tun Jang
Tuesday, February 3, 2009
Perjalanan Pendek Ke Bukit Kaba Menemukan Sebuah Arti
Oleh : Dion Barus
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, besar dalam budaya, besar dalam suku bangsa dan besar dalam perjuangan. Bapak-bapak bangsa (Founding Fathers) telah meletakkan dasar yang kokoh dalam perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Selain itu lebih dari dua ratus juta rakyat Indonesia memiliki peranan-peranan yang tak kecil pula. Sebagai satu dari sekian ratus juta manusia yang lahir di Ibu Pertiwi saya juga memiliki sebuah usaha yang kecil dalam menemukan arti hidup berbangsa dan bernegara di negeri indah ini. Usaha itu bermula dari sebuah perjalanan pendek yang mungkin akan mengubah pandangan hidup saya terhadap kekayaan bangsa Indonesia.
Hari Kamis tanggal 22 Januari 2009, saya bersama teman-teman kampus sepakat untuk menaiki gunung (bukit) Kaba di Curup, Provinsi Bengkulu. Bagi saya pendakian ini merupakan pengalaman pertama. Sebagai pendaki junior, hal pertama yang muncul di pikiran adalah pendakian ini akan membosankan, melelahkan, menghabiskan uang dan waktu. Namun semua itu salah besar justru disinilah saya menemukan sebuah pandangan baru dari alam indah Indonesia.
Perjalanan dari kota Lubuk Linggau ke Curup sangat mengasyikan, sepanjang perjalanan mata kita disuguhkan pemandangan yang indah, perkebunan di kiri dan kanan jalan udara dingin nan sejuk menemani perjalanan yang menempuh waktu satu setengah jam itu. Sesampainya di pos penjagaan gunung, saya sempat mengobrol bersama penjaganya di tengah hamparan kebun jagung dan sayuran yang dingin, sesuatu yang tidak akan pernah saya temui di kota.
Setelah pembersihan kami mendirikan tenda dan dilanjutkan dengan memasak untuk makan malam. Tak lupa kami memastikan bahwa semua sampah kami telah dibuang dengan benar. Malam pertama di puncak gunung pun terlewati ditemani oleh ratusan bintang di langit dan kilauan lampu-lampu rumah penduduk di bawah gunung. Keesokan harinya kami menuju puncak tertinggi dari gunung Kaba dimana di sana ada kawah belerang. Sekali lagi perjalanan ke puncak kawah lebih sulit daripada menuju puncak base camp, kontur daerahnya berbatu dengan kemiringan hampir 90 derajat. Rupanya dilokasi itu, telah dibangun anak-anak tangga oleh Pemerintah Daerah setempat sehingga memudahkan pendaki untuk menaiki puncak kawah. Rupanya bagi sebagian pendaki, fasilitas anak-anak tangga itu disalahgunakan sebagai tempat untuk vandalisme, banyak coretan-coretan dan graviti yang bertuliskan nama atau asal dari pendaki yang pernah mendaki di gunung itu. Hampir keseluruhan anak tangga penuh oleh coretan bahkan sampai ke pagar pembatas kawah. Tentu hal ini mengurangi keindahan dari pemandangan gunung Kaba tersebut. Salah satu teman saya sebenarnya telah mempersiapkan untuk menuliskan nama kelompok kami di anak tangga itu, namun karena desakan dari saya dan teman-teman yang lain maka niat itupun diurungkan. Karena kami yakin bahwa perjalanan jauh kami dari Palembang ke Bengkulu bukan untuk mengotori gunung namun menikmati keindahan alam yang tak dapat kami temukan disini.
Setelah 1 hari menginap di puncak gunung Kaba kami akhirnya turun, semua sampah dan kotoran yang kami tinggalkan selama menginap telah dibuang di tempat sampah. Boleh dikatakan kami meninggalkan Gunung Kaba dengan bersih seperti sebelum kami mendaki. Perjalanan pulang sama menariknya dengan perjalanan kami menuju puncak gunung.
Kini, saya telah berada di Palembang sebuah kota yang tak akan pernah sama dengan apa yang kami rasakan di puncak gunung Kaba. Kami pulang dengan hati yang senang dan puas bukan karena telah berhasil mendaki gunung dengan tinggi 1.300 meter di atas permukaan laut itu namun lebih kepada perasaan bahwa kami telah dapat menghargai alam Indonesia. Usaha kecil yang saya dan teman-teman lakukan bukanlah usaha besar seperti yang telah dilakukan oleh Pahlawan-pahlawan besar Indonesia dan orang-orang yang telah mengorbankan nyawa dan raganya demi tegaknya negara Indonesia. Apa yang kami lakukan adalah usaha kecil yang dapat kita lakukan bersama, usaha kecil inilah yang sudah seharusnya dilakukan oleh semua rakyat Indonesia sesuai dengan bidangnya masing-masing karena saya yakin kita memiliki usaha-usaha sendiri baik itu kecil atau besar untuk membangun bangsa ini seperti apa yang telah diperjuangkan oleh Pahlawan kita. Usaha kecil akan mengubah Indonesia karena Aku untuk Bangsaku dimulai dari hal kecil.
Sumber : http://dionbarus.wordpress.com
Wednesday, January 28, 2009
Rute Jalur Pendakian Taman Wisata Alam Gunung Kaba (1937 dpl)
Bukit kaba (1937 Mdpl) terletak di kecamatan Selupu Rejang berjarak sekitar 104 Kilometer dari ibukota propinsi Bengkulu, atau sekitar 19 Kilometer dari ibukota kabupaten Rejang lebong. Persimpangan menuju bukit kaba (Ds. Sumber Bening) merupakan jalur lintas sumatera yang menghubungkan provinsi Bengkulu dengan Provinsi Sumatera selatan dengan kota terdekat adalah Lubuk Linggau (Sumsel) dan Kota Curup (Bengkulu).
Berikut Rute perjalanan yang dapat ditempuh untuk menuju wisata Alam Bukit kaba :
1. Dari Ibukota Propinsi Bengkulu Carilah mobil angkutan umum yang menuju kota Curup (Terminal Pasar Panorama) Ongkos saat ini Rp 20.000 dengan waktu tempuh lebih kurang 2 jam.
2. Dari Terminal Curup naik mobil angkutan desa (angdes) tujuan Ds Sumber bening atau simpang Bukit Kaba. Ongkos saat ini lebih kurang Rp 7.000 dengan waktu tempuh lebih kurang 1 jam.
3. Setelah Sampai Simpang Bukit kaba untuk menuju Visiting Centre (Gerbang rimba) terdapat alternatif transportasi yang dapat digunakan (jam 08.00 Wib s/d 16.00 Wib) bisa naik Angdes (Rp.5000) atau naik Ojek (Rp. 15.000) dengan waktu tempuh 1/2 jam atau juga agar lebih asik bisa naik GL...(alias goyang lutut) atau jalan kaki dijamin Cepet kurus...he2x...lebih kurang 2 jam perjalanan. Selama rute ini kita akan menikmati pemandangan rumah-rumah penduduk, perkebunan sayur, buah dan palawija.
4. Tiba digerbang rimba visitting Centre lakukanlah registrasi pendakian untuk mendata anda jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan...wajib...!!!.Juga memperlengkap persedian logistik anda dan berkoordinasi tentang rute yang akan di lewati.
5. Rute selanjutnya terdapat 2 pilihan...pertama melalui jalan aspal yang kondisinya rusak parah (jika menggunakan kendaraan disarankan 4wheels atau motor trail) dan kedua bagi penikmat tantangan melalui rute pendakian.
6. Jika melalui rute pendakian kita akan menemui sumber mata air pertama yang mengandung belerang untuk mencuci dan membersihkan tubuh.
7. Selanjutnya terdapat persimpangan yang sebenarnya nanti bertemu disatu titik, rute kanan menuju pemandian air panas dan rute kiri jalur pendakian normal. Pilih saja sesuai keinginan anda.
8. Selama perjalan menuju (Camping Ground) tempat berkemah kita akan melewati vegetasi hutan hujan tropis yang rapat, dan jika beruntung anda akan menyaksikan segerombolan siamang yang menemani anda. Semakin pepohonan menjadi rendah maka anda semakin dekat dengan camping ground yang ditandai dengan sebuah kubah yang berfungsi sebagai tempat pemantauan aktivitas gunung berapi.
Catatan.
-. Jika anda berada di kubah (shelter) sumber air dapat anda cari di depan dan dibelakang kubah.
-. Pilih jalur kanan untuk menuju puncak dan tangga seribu (Menyaksikan pemandangan kawah dari atas)
-. Pilih Jalur kiri untuk menuju Kawah hidup dan kawah mati dari dekat.
-. Objek wisata ini ramai dikunjungi para petualang/pendaki gunung pada hari-hari libur dan besar nasional
Sumber :
www.pelangibiru.com
Tuesday, January 20, 2009
Bukit Kaba - Kaba Mountain
Adanya fasilitas tangga di lereng luar Kawah Lama memudahkan para wisatawan untuk mencapai bibir kawah-kawah lainnya di kawasan puncak. Sumber mata air panas di Air Meles (lereng baratdaya) dan di Air Sempiang (lereng selatan) juga merupakan tempat-tempat yang potensial bagi wisata gunungapi di Kabupaten Rejang Lebong.
Terdapat 8 kawah di puncak, masing-masing a.l :

Penduduk di sekitar Gunungapi Kaba umumnya bertani sayur mayur. Kota Curup dengan desa Sumber Urip nya, terkenal sebagai sentra sayur mayur untuk Propinsi Bengkulu, bahkan pensuplai sayur mayur terbesar bagi kota Palembang, ibukota Propinsi Sumatera Selatan. Selain sayur mayur, penduduk di sekitar Gunung api Kaba bercocok tanam kopi. Kopi Bengkulu yang terkenal beberapa di antaranya diproduksi dari para petani di wilayah Gunungapi Kaba

Source :http://alamkuduniaku.blogspot.com
Thursday, January 15, 2009
Tebo Kabeak Video Song (The Kaba Mountain Video Song)
Shooting at the summit of Kaba Mountain as background, will bring you to watching how beautiful Kaba Creater, one a few mountain series in Rejang land.
The singer tell us about Rejang anchestor previously be imprisoned in Kaba Mountain. So that why a few Rejang people till today supposed the Kaba Creater as sacred place. In other session you can see the ladies and gent wearing traditional Rejang cloth dancing, they dance at foot mountain area. We try to show you how ladies and gent from Rejang Land dancing with polite act and enthrall. So do not wait to play the clip, and enjoy it :)
Monday, December 29, 2008
Beautiful Natural Painting of Kaba Mountain at Plateau Sumatera, Rejang Land


























Credit photo : pariwisatarejanglebong.com







































