Showing posts with label Legenda. Show all posts
Showing posts with label Legenda. Show all posts

Thursday, May 21, 2009

Asal Mula Pohon Enau

Posted by Yayux at 12:29 AM 0 comments
Rejang Folktale
[ungun+scandal+1.jpg]

[ungu+scandal+2.jpg]
[ungu+scandal+8.jpg]
[ungu+scandal+9.jpg]
[ungu+scandal.jpg]

Source :
Cerita rakyat dari Bengkulu
Escrito por H. Syamsuddin, Syamsuddin Z. A., Naim Emel Prahana, Zaharuddin, Ikram, M., Habib, M. Halimi, Yasul, Zainuddin
Publicado por Grasindo, 1993
ISBN 9795532952, 9789795532958
64 páginas



Tuesday, May 19, 2009

Legend of Musi River - Asal Mula Sungai Musi

Posted by Yayux at 11:12 PM 0 comments
Southern sumatra legend story
[1.jpg]

[2.jpg]
[3.jpg]
[4.jpg]
[5.jpg]
[6.jpg]
[7.jpg]
Source :

Cerita rakyat dari Sumatra Selatan
Oleh B. Yass
Diterbitkan oleh Grasindo, 1993
ISBN 9795538438, 9789795538431

Friday, April 17, 2009

The Legend of Tes Lake

Posted by Yayux at 1:12 AM 0 comments
Folklore from Lebong, rejang Land, Bengkulu

Tes Lake, at Lebong Regency, rejang land, Bengkulu Province

THERE was a man lived in Kutei Donok village, Bengkulu. People call him Pahit Lidah. He was named Pahit Lidah because he had magical power. Whatever he said would come true. That was why Pahit Lidah was always careful with his words.

Pahit Lidah had a son. One day Pahit Lidah left his village. He wanted to open new rice field. He asked permission to the head of the village.

The head of the village gave him the permission.

Pahit Lidah went alone.
His son still stayed at home.

After walking for several hours, he finally found a good place for his new rice field. He brought his hoe and started using it. He dug the soil and threw it to the Air Ketahun River. He was working days and nighst and he never stopped to rest. He was very powerful. He kept on hoeing the soil and always threw it to the river.

He had been working for two days and there was a lot of land covering the river. Slowly the soil blocked the water. The soil in the river made the water did not flow smoothly.

The villagers were restless. They knew if Pahit Lidah kept on throwing the soil to the river, finally the river would totally blocked by the soil. They were afraid that the water would overflow and their village would be flooded.

The villagers then reported this to the head of the village. After he knew the problem, the head of the village sent some villagers to meet Pahit Lidah. They had to persuade him to stop working and returned home.
“If he still does not want to go home, tell him that his son is dead,” said the head of the villagers.

Later the villagers left. They finally met Pahit Lidah. As planned, they tried to persuade him to stop working. However, Pahit Lidah ignored them. Then they told him that his son was dead.
“Impossible. My son is fine. He is still alive,” said Pahit Lidah.
They villagers gave up. They went home and reported to the head of the village.

“I’m sorry, Sir. Pahit Lidah did not want to listen to us. Maybe if you tell him, he will listen to you. He really respects you,” said one villager.
“Hmmm. Alright, I will go now,” said the head of the village.
The head of the village then found Pahit Lidah still hoeing the soil. Later he persuaded Pahit Lidah.
“Pahit Lidah, let’s go home now. Your son is dead,” said the head of the village.
Pahit Lidah stopped working. He really respected the head of the village.
Then he said, “Because you said that my son is dead, now I really believe that my son is dead,” said Pahit Lidah sadly.

“So, why don’t you go home now?”
“I will, Sir. I just need to hoe the soil a little more,” said Pahit Lidah.
After that, the head of the village left him. Pahit Lidah just realized his mistake.
Pahit Lidah was so sure that his son was not dead, then his son was indeed dead. He was so angry. However it was too late. He kept on hoeing and throwing the soil to the river. And finally the land completely blocked the river and it made a new lake. People named the lake as Tes Lake.***

Source :
ht*p://indonesianfolklore. blogspot. com/?widgetType=BlogArchive&widgetId=BlogArchive1&action=toggle&dir=open&toggle=MONTHLY-1235894400000&toggleopen=MONTHLY-1238569200000

Tuesday, February 24, 2009

Putri Lalan (Asal Usul Lagu Lalan Belek)

Posted by Yayux at 4:56 AM 0 comments
Cerita rakyat dari Tanah Rejang

Tempat Mandi Bidadari
Alkisah, disuatu dusun yang masih belantara, terdapatlah sebuah bulak (tempat pemandian alam) yang sangat jernih mata airnya. Konon ceritanya, ditengah malam hari setiap bulan purnama tanggal empat belas, selalu didatangi oleh tujuh bidadari cantik dari kayangan yang hendak berhajat mandi dan bersukacita.

Bulak tempat mandi-mandi ketujuh bidadari dari kayangan itu memang masih perawan, karena memang belum pernah ada seorangpun yang datang dan mandi disana. Di bulak itulah ketujuh bidadari kayangan selalu mandi dan bermain dengan bebas serta bersukacita.

Kejadian itupun terus berulang-ulang pada tengah malam setiap bulan purnama yang keempat belas. Setelah usai mandi dan bersenang-senang, ketujuh bidadari itupun kembali lagi terbang ke kayangan, tempat tinggal para dewa. Air bulak bekas yang habis dipakai untuk mandi-mandi para bidadari itu, selalu menimbulkan bau wewangian yang amat harum sekali. Konon kabarnya harum wewangian di sekitar bulak itu tidak hilang-hilang sampai tujuh hari lamanya.
Namun demikian, lambat laun tempat mandi-mandi para bidadari itupun diketahui oleh salah seorang nenek tua. Kebetulan nenek tua, penghuni di talang itu tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari tempat mandi-mandi para bidadari.

Semula, pada suatu tengah malam di bulan purnama yang keempat belas, nenek tua itu terjaga dari tidurnya, karena dari arah kejauhan mendengar ada suara banyak orang sedang mandi. Maka nenek tua itu keluar dari talangnya dan segeralah menuju ke arah datangnya suara itu. Setelah nenek tua itu mendekati bulak dengan amat perlahan-lahan, maka tertegunkah nenek tua itu melihatnya. Tak lama kemudian, ketujuh bidadari itupun segera terbang ke angkasa menuju kayangan.

Nenek tua itupun segera kembali ke talangnya dengan penuh tanda tanya dalam pikirannya. Tidak seberapa lama kemudian, tiba-tiba hidung nenek itu mencium bau wewangian yang semerbak harumnya. Bau wewangian itu terus semerbak hingga mengganggu tidur si nenek tua. Bahkan pada keesokan harinya, bau harum itupun masih tercium dihidungnya.

Oleh karena rasa ingin tahu itulah, maka bergegaslah nenek tua itu menuju ke bulak. Sesampainya dibulak, nenek itu segera memeriksa tempat yang habis dipakai mandi-mandi para bidadari semalam. Ditempat inilah nenek tua menemukan berbagai jenis bunga-bungaan yang ternyata menimbulkan bau wewangian yang amat luar biasa semerbaknya.

Maka tercetuslah perkataannya: “Oi, ternyata disinilah sumber asal bau wewangiannya. Baru sekali ini kami melihatnya, ternyata tempat ini amatlah indah, mata airnya jernih, sejuk lagi pula amat nyaman udaranya”. Nenek itupun berpikir dalam hatinya, sambil memunguti bunga-bunga harum yang beraneka warna. “Pastilah yang datang mandi-mandi disini bukan bangsa manusia, melainkan bangsa bidadari, sebab mereka bisa terbang tinggi dan jauh hingga menghilang di angkasa”.

Sesudah puas memeriksa bulak, nenek tua itupun segera meninggalkan tempat itu, dan tiada lupa membawa segenggam bunga harum warna-warni yang diambil dari bulak. Bunga-bunga itu kemudian disimpan di talangnya, dan ternyata bunga-bunga itulah yang menimbulkan bau wewangian yang semerbak hingga tujuh hari lamanya.

Sejak saat itulah nenek tua itu mengetahui bahwa disekitar talangnya ada sebuah bulak, tempat mandi-mandi alam yang amat indah pemandangannya. Mata airnya jernih, udaranya pun amat sejuk dan nyaman. Itulah awal pengalaman yang menakjubkan bagi nenek tua yang tinggal sendirian di talangnya.

Kejadian itupun berulang terus-menerus setiap bulan purnama tanggal empat belas tengah malam. Oleh sebab itu nenek tua itupun lama-lama menjadi terbiasa, dan tiada menghiraukan lagi. Sebenarnya pula, ketujuh bidadari itupun sudah merasa curiga kalau ada bangsa manusia yang telah mengetahui kedatangannya di tempat itu. Ketujuh bidadari itu mulai curiga, karena setiap hendak mandi lagi, ada beberapa bunga yang hilang, bahkan tempat itu selalu bersih. Maka tiap kali mereka hendak turun mandi ke bulak itu, selalu membawa bunga warna-warni dari kayangan yang harumnya amat luar biasa.

Akhirnya ketujuh bidadari itu mengetahui bahwa yang sering melihatnya dan mengambil bunga-bunganya, serta membersihkan tempat itu adalah seorang nenek tua. Oleh karena si nenek tua itu dianggap tidak mengganggunya, maka para bidadari itupun tiada terlalu merisaukannya.

Bujang Mengkurung dan Nenek Tua
Kisah selanjutnya, disebuah dusun yang agak jauh dari talang nenek tua, hiduplah sepasang suami-istri yang sudah cukup tua dengan seorang anak bujangnya. Oleh karena keduanya sudah tua, maka sibujang itulah yang tiap harinya mencarikan makanan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Hampir tiap hari si bujang keluar masuk hutan berburu binatang, mengambil ubi-ubian, memancing ikan, serta mengambil kayu bakar. Pendek cerita si bujang itulah yang menjadi tumpuan harapan bagi orang tuanya. Oleh karena itu, si bujang itu lebih dikenal dengan nama Bujang Mengkurung.

Pada suatu hari pergilah Bujang Mengkurung itu masuk ke hutan hendak berburu binatang. Untung tak dapat diraih, malang pun tak dapat ditolak. Hari sudah menjelang senja, tetapi Bujang Mengkurung belum juga mendapatkan hasil buruannya. Biasanya sebelum matahari condong ke barat, Bujang Mengkurung sudah pulang ke rumah dengan membawa hasil buruannya.

Padahal, bekal makanan dan minum yang ia bawa itu sudah habis. “Sudahlah kepalang basah, lebih baik tak pulang ke rumah daripada belum menghasil buah,” guman Bujang Mengkurung. Si Bujang Mengkurung itupun berjalan terus dengan gontainya hingga sudah tidak tahu lagi arah rimbanya. Maka iapun tersesat di tengah belantara.

Namun keberuntungan masih berpihak pada Bujang Mengkurung, karena pada saat malam tiba ia menemukan sebuah talang. “Oi, beruntunglah aku ini dapat tempat untuk berteduh,” gumannya lirih sambil menghela napas panjang. Maka, segeralah Bujang Mengkurung mengetuk pintu talang itu. Tak seberapa lama kemudian, muncullah nenek tua itu sambil membawa lampu penerang yang terbuat dari bambu.

Setelah dipersilahkan masuk, Bujang Mengkurung itupun memperkenalkan diri, lalu menceritakan asal-usulnya hingga ia tersesat di talang nenek tua itu. Mendengar ceritera Bujang Mengkurung itu, nenek tua menjadi iba dan penuh haru. Maka dengan rasa tulus nenek tua itu memberi makanan serta minuman kepada Bujang Mengkurung.

Nenek Tua Buka Rahasia
Sungguhlah beruntung bagi Bujang Mengkurung, karena nenek tua itu telah memperlakukannya dengan ramah dan penuh kasih sayang. Bahkan Bujang Mengkurung telah dianggabnya sebagai cucunya sendiri. Maka merekapun saling berceritera tentang pengalaman hidupnya masing-masing.

Malam terus berjalan sesuai dengan kodratnya hingga menjelang larut. Tiadalah mungkin Bujang Mengkurung itu pulang ke rumahnya. Nenek tua itupun tak tega membiarkan Bujang Mengkurung pulang dilarut malam. Maka Bujang Mengkurung itupun berinap di talang nenek tua itu.

Sebenarnya, ketika Bujang Mengkurung itu memasuki talang nenek tua itu, ia telah mencium bau wewangian yang harumnya amat menusuk hidungnya. Oleh karenanya, Bujang Mengkurung tak dapat tidur dengan lelap. Bahkan sebentar-sebentar terjaga dari tidurnya karena semerbak bau wewangian yang luar biasa harumnya. Setelah mengamati sekitarnya, secara samar-samar, ia menatap tumpukan bunga-bunga yang beraneka warna.
“Barangkali bunga-bunga itulah yang mengeluarkan bau yang amat harum,” pikirnya dalam hati. Tetapi Bujang Mengkurung tidak berani menanyakan hal itu kepada nenek tua, karena malam telah berlarut.

Pada keesokan harinya, sebelum mohon diri, Bujang Mengkurung memberanikan diri menanyakan tentang bau harum serta hubungannya dengan bunga-bunga yang menumpuk dalam talang nenek tua itu. Mulanya, nenek tua itu agak enggan berceritera. Tetapi, setelah menatap Bujang Mengkurung yang penuh menghiba itu, maka diceritakanlah hal ikhwal tentang rahasia tumpukan bunga itu.

Bujang Mengkurung sangat tertarik sekali dengan ceritera nenek tua itu. Lebih-lebih ceritera tentang tujuh bidadari yang sering mandi di bulak pada tengah malam setiap bulan purnama yang keempat belas. Maka ia sangat berharap untuk dapat melihat ketujuh bidadari yang sering mandi itu. Bujang Mengkurung lalu mohon pamit, dan berjanji kelak akan datang lagi ke talang nenek tua jika hendak menjelang bulan purnama yang keempat belas.

Larangan Turun ke Bumi
Dikisahkan selanjutnya, di kayangan tempat tinggal bangsa dewa dan bidadari, sedang mengadakan persidangan istimewa. Oleh karena itu yang hadir dalam persidangan istimewa hanyalah para pucuk pimpinanan dewa saja. Adapun yang sedang dibahas adalah firasat datangnya hari buruk yang akan menimpa kehidupan di kayangan.

Pada akhirnya, dalam persidangan itupun telah dicapai kata sepakat, bahwa demi keselamatan kehidupan di kayangan, maka untuk sementara waktu penghuni kayangan tidak diperkenankan turun ke bumi. Jikalau ada dewa atau bidadari yang melanggar larangan tersebut, maka akan menanggung sendiri akibatnya.

Setelah mendengar keputusan para pucuk pimpinan dewa, maka gundah gulanalah rasa hati para bidadari itu. Terlebih-lebih ketujuh bidadari yang selalu turun ke bumi tiap bulan purnama tanggal keempat belas. Ketujuh bidadari itu kakak beradik. Adapun nama ketujuh bidadari itu masing-masing ialah:
Nawang Sasi,
Nawang Sari,
Nawang Lintang,
Nawang Dadar,
Nawang Langit,
Nawang Terang, serta si bungsu
Nawang Wulan.
Ketujuh bidadari kakak beradik itu amatlah sedih, karena tiada lama lagi bulan purnama tanggal keempat belas akan segera tiba. Dengan adanya larangan tersebut, maka mereka tidak dapat lagi turun ke bumi untuk mandi-mandi dan bersukacita.

Diantara tujuh bersaudara, yang paling sedih dan gundah gulana adalah Putri Lalan (panggilan akrab Nawang Wulan). Sebagai putri bungsu, Lalan memang sangat dimanja baik oleh kedua orang tuanya, maupun oleh kakak-kakaknya. Apa saja yang dikehendaki oleh si bungsu Putri Lalan itu, selalu dituruti oleh kedua orang tuanya.

Akan tetapi kali ini rupanya Putri Lalan amat sungguh kecewa. Sehari-hari kerjanya Putri Lalan hanyalah murung saja. Makan tiada hendak, diajak bermain pun menolak. Padahal keenam kakaknya itu sudah berusaha untuk menghibur dan membujuknya agar Putri Lalan mau makan serta tidak bermuram durja. Akan tetapi, Putri Lalan masih tetap menolak bujuk rayu dari keenam kakaknya.

Melanggar Larangan Dewa
Jikalau hati sudah terpikat, hasrat sudah menguat, beban hatipun terasa berat untuk meninggalkan hajat. Begitulah kiranya perasaan hati Lalan yang semakin menderita. Badannya pun semakin kurus, raut wajahnya yang dulu ceria pun kini terus memucat. Melihat si bungsu Lalan yang kian menderita, maka keenam kakaknya itupun mengadakan mufakat untuk menuruti apa yang menjadi kehendak adiknya itu. Maka segeralah keenam kakaknya itu mendekati Lalan.

"Duhai dindaku Lalan nan tercinta, sungguh nian keenam kakak ini tiada tega menatap dinda yang tiada berhenti menderita. Jikalau dinda terus bersedih, tentu kami berenam pun larut dalam kepedihan. Katakanlah dindaku, apa yang sesungguhnya dindaku kehendaki, maka pastilah kandamu berenam akan mendukungmu,” ujar Nawang Sasi yang mewakili saudara-saudara itu.

Mendengar ketulusan perkataan dari kandanya itu, maka berkatalah si bungsu Putri Lalan dihadapan keenam kakaknya; “Ya ayunda berenam nan baik budi, jikalau sungguh ayunda berenam hendak menuruti hasrat dinda, marilah kita bertujuh turun ke bumi. Sebab, dinda sungguh tiada bergairah hidup lagi, bilamana keinginan dinda ini tiada terpenuhi”.
Setelah saling bertatapan dengan penuh keharuan, keenam kakak-beradik itupun segera memeluk erat-erat si bungsu Putri Lalan secara bergantian. Ketujuh bidadari nan cantik jelita itupun bersepakat, seia sekata dan bertekad akan turun kebumi. Apapun akibat pelanggaran dari larangan para dewa itu, akan dihadapi bersama baik dalam duka nestapa maupun sukacita, dalam derita ataupun bahagia.

Turun ke Bumi
Hari berganti hari, waktu terus berlalu. Tak terasa bulan purnama tanggal empat belas pun menjelang tiba. Saat itulah yang ditunggu-tunggu oleh ketujuh bidadari itu untuk menuruti hasratnya. Perbekalan telah dipersiapkan, bunga-bunga kayangan pun tiada ketinggalan. Pertanda perjalanan menuju ke bumi hendak dimulai.

Setelah segala sesuatunya telah siap, maka ketujuh bidadari itupun segera turun ke bumi. Mereka bertujuh telah meninggalkan kayangan, melupakan pesan, serta melanggar larangan, demi mencapai tujuan, menuruti keinginan si bungsu Putri Lalan.

Tak seberapa lama kemudian, sampailah mereka ditempat tujuan. Bulak, tempat mandi-mandi dan bersukacita sudah dipelupuk mata. Hasrat dan kerinduan pun segera terlaksana. Ketujuh bidadari kakak-beradik itupun segera melepaskan pakaian terbangnya satu persatu.
Sebagaimana biasanya, Putri Lalan lah yang melepas pakaian terbangnya terlebih dahulu, lalu ditumpuki oleh pakaian kakak-kakaknya. Oleh karenanya pakaian Putri Lalan itu selalu berada paling bawah. Dengan demikian Putri Lalan lah yang paling duluan mandinya, dan selesainya pun paling belakangan. Mereka kemudian bersenang-senang menikmati mata air nan jernih, udara nan sejuk, serta pemandangan alam yang indah. Bunga-bunga kayangan pun bertaburan di sekitar pemandian, serta menyerbakkan bau wewangian yang harumnya sangat luar biasa.

Pakaian Terbang Putri Lalan Hilang
Jernih nian mata air rimba pegunungan, hawanya sejuk lagi nyaman. Siapapun gerangan yang datang, pastilah pantang untuk melupakan. Begitulah kiranya perasaan ketujuh bidadari yang sudah sering mandi di bumi. Terlebih si bungsu Putri Lalan yang sudah dimabuk kepayang, merindukan mata air rimba pegunungan.

Biasanya ketujuh bidadari nan cantik itu tiadalah berlama-lama mandinya. Tetapi, entah mengapa kali ini mereka begitu lama bersenang-senang, hingga tiada ingat lagi waktunya untuk terbang kembali ke kayangan. Dan biasanya pula, si bungsu Putri Lalan lah yang memberi isyarat untuk segera terbang kembali ke kayangan.

Malam semakin melarut hingga hampir fajar, ketujuh bidadari itupun menyadari akan waktunya. Tanpa menunggu isyarat dari si bungsu Putri Lalan, lalu bergegaslah mereka mengambil pakaian terbangnya. Oleh karena tumpukan pakaian Putri Lalan itu berada paling bawah, maka Putri Lalan lah yang paling belakangan mengambilnya.

Namun betapa terkejutnya si bungsu Putri Lalan, ketika melihat pakaian terbangnya sudah tidak tampak lagi. Pakaian si bungsu Putri Lalan telah hilang, sementara kakak-kakaknya sudah berpakaian terbang semua. Dilihatnya si bungsu Putri Lalan kebingungan mencari pakaian terbangnya, maka keenam kakaknya itupun segera ikut mencarinya. Setelah dicari kesana-kemari tiada hasilnya, maka menangislah ia tersedu-sedu. Keenam kakaknya pun turut meratapi nasib adiknya yang amat dicintai itu.

Perpisahan yang Mengharukan
Malang nian nasib si bungsu Lalan itu, karena telah kehilangan pakaian terbangnya. Isak tangisnya pun semakin menjadi-jadi. Sementara batas waktu kian mengejarnya karena fajar sudah hampir tiba. Sungguh, bagaikan buah simalakama, meninggalkan si bungsu Putri Lalan sendirian tiadalah sampai hati, Bertahan di bumi lama-lama pun tiadalah mungkin. Akan tetapi, merekapun harus memilihnya.

Setelah termenung agak lama, lalu berkatalah dengan lirihnya si bungsu Putri Lalan itu kepada keenam kakaknya; “Duhai kanda-kandaku tercinta, memang sudah suratan nasib dinda, tiadalah bijak kandaku berlama-lama, karena ayah-bunda pastilah kecewa. Biarlah dinda menanggung akibatnya, jikalau kelak telah tertebus dosa, niscaya kita dapat bersama lagi.” Mendengar perkataan si Bungsu Putri Lalan yang amat mengharukan itu, menjawablah salah seorang dari keenam kakaknya. “Ya adindaku yang amat kusayang, tiadalah tega ayunda meninggalkanmu seorang. Andaikan ku dapat meminjamkan baju terbang, tentulah nasibmu tiada malang.”

Merekapun saling berpelukan erat disertai tetesan air mata yang terus mengalir dengan derasnya. Tak seberapa lama kemudian, dengan hati yang pilu, keenam kakaknya itu pun lalu terbang meninggalkan Putri Lalan sendirian di tengah rimba belantara.

Si Pencuri Pakaian Terbang
Siapa sebenarnya yang mencuri pakaian terbangnya Putri Lalan (panggilan akrab Nawang Wulan). Pencurinya tiada lain adalah si Bujang Mengkurung. Rupanya, si Bujang Mengkurung itu sudah lama menunggunya, dan bersembunyi dibalik semak-semak.

Setelah diberitahu oleh Nenek Tua, tentang tempat pemandiannya para bidadari, maka timbullah hasrat hati si Bujang Mengkurung untuk melihatnya. Sejak pulang dari rumah nenek tua itulah ia menjadi seorang yang pemalas. Ia pun mulai jarang membantu kedua orang tuanya untuk menanam padi-padian, mencarikan ubi-ubian, berburu binatang, maupun memancing ikan.

Kedua orang tuanya menjadi terkejut melihat perubahan perangai anak tunggalnya itu. Kerjanya hanya menghitung hari dan bulan. Rupanya yang dipikirkan adalah menunggu datangnya bulan purnama. Maka. Berbulan-bulanlah ia memikirkannya. Bahkan ia sering termenung seorang diri di atas bebatuan.

Pada suatu ketika didekatilah si Bujang Mengkurung oleh kedua orang tuanya, kemudian bertanya; “Hai Jang, apakah gerangan yang dipikirkan, berharian di atas batuan, bermenung tanpa kawan. Kerja tak hendak, makan tak enak, tidur pun tak nyenyak”. Maka menjawablah si Bujang Mengkurung; “Memang benar apa kata Ayah bunda, maafkan beta lupa bekerja, karena menunggu bulan purnama. Jikalau purnama menjelang tiba, izinkan lah beta ke talang nenek tua”. Setelah mendengar jawaban dari anaknya, Ayah Bundanya pun menjadi maklum adanya.
Hari kian berlari, bulan pun silih berganti. Tak seberapa lama, tibalah saat yang dinanti-nanti. Tatkala bulan purnama hendak menjelang, Si Bujang Mengkurung pun berhati riang. Maka berpamitanlah kepada kedua orang tuanya untuk pergi berkelana.

Tak lama kemudian sampailah si Bujang Mengkurung di talang nenek tua itu. Oleh karena bulan purnama tanggal empat belas semalam lagi, maka Bujang Mengkurung itupun bermalam disana. Dan keesokan harinya, Bujang Mengkurung lalu ditunjukkan oleh nenek tua, tempat pemandian ketujuh bidadari itu.

Tepat tengah hari, sampailah mereka ke tempat tujuan. Setelah mengantar Bujang Mengkurung, nenek tua itupun segera kembali ke talangnya. Bujang Kesian kemudian mencari tempat untuk persembunyiannya.

Waktu terus berputar, malampun sudah menjalar. Dari balik semak belukar, sepasang mata terus mengincar. Perasaan mulai gusar, denyut jantung pun kian berdebar. Tiba-tiba muncul bola-bola sinar kian berpijar kian berbinar. Bagaikan sinarnya halilintar, seolah membakar alam sekitar. Badan kekarpun jadi gemetar, menatap sinar dari semak belukar. Tetapi dengan hati yang sabar, Bujang Mengkurung pun tak beranjak keluar.

Dibalik kemilaunya sinar cahaya, segeralah tampak wajah-wajah elok nan juwita. “Oi, rupanya ini yang namanya bidadri, indah nian mata memandangnya. Wuah, mereka sedang melucuti pakaiannya. Aduhai elok nian tubuhnya. Sungguh beruntung sekali jikalau dapat salah satu diantaranya. Tetapi bagaimana caranya? Barangkali aku harus mencuri pakaiannya,” gumannya dalam hati si Bujang Mengkurung dengan kedua matanya yang terus menatap.

Setelah berpikir sejenak , mulailah si Bujang Mengkurung itu merayap perlahan-lahan mendekati tumpukan pakaian ketujuh bidadari itu. Disaat ketujuh bidadari itu sedang terlena, si Bujang Mengkurung lalu mengambil salah satu pakaian yang paling bawah sendiri. Dan ternyata, yang diambil itu adalah pakaian bidadari Nawang Wulan (Putri Lalan). Setelah berhasil mengambilnya, lalu dimasukkan dalam bungkusan miliknya. Si Bujang Mengkurung pun segera menjauhi tempat pemandian bidadari itu, sambil memikirkan rencana selanjutnya.

Putri Lalan dan Bujang Mengkurung
Semenjak ditinggal terbang oleh kakak-kakaknya, Putri Lalan menjadi sebatang kara. Untuk menutupi tubuhnya yang hampir telanjang, dikumpulkannya kulit-kulit pohon yang lebar-lebar, serta tangkai-tangkai yang daunnya rimbun. Dengan hati yang pasrah Putri Lalan terus berjalan tanpa tahu arah dan tujuan. Belum seberapa lama berjalan, kaki Lalan sudah terasa kecapaian. Maklum, bidadari seperti Putri Lalan memang belum pernah berjalan sampai sejauh itu.
Setelah melepas kecapaian, Putri Lalan terus melanjutkan perjalanannya, dan tak seberapa lama kemudian, sampailah ia di rawa-rawa. Rupanya si Bujang Mengkurung sudah ada di tempat itu dengan santainya mengail ikan. Tanpa ragu-ragu, Putri Lalan pun segera mendekatinya, lalu bertanya; “Wahai tuan, sedang apakah gerangan yang tuan lakukan disini?” Dengan acuh tak acuhnya si Bujang Mengkurung itu menjawabnya; “Hamba sedang mengail ikan”. Lalan kemudian melanjutkan pertanyaannya; “Adakah tuan melihat pakaian terbang hamba?” Si Bujang Mengkurung itupun hanya menggelengkan kepala.

Oleh karena diliriknya Putri Lalan tiada berpakaian layak, maka disodorkannya sehelai kain. Putri Lalan pun segera menyambutnya dengan sukacita, seraya berkata; “Duhai tuan yang baik hati, tuan sudi memberikan kain ini kepada hamba. Sudah barang tentu hamba telah berhutang budi, dan rasanya hamba ingin sekali balasnya, tetapi tiada suatu apapun yang hamba miliki.” Mengkurung pun segera menyahutnya; “Ya tuan putri nan juwita sekali, tiadalah hamba menghutangkan budi. Tetapi kalau hendak balas memberi, berikanlah hamba sebuah cinta yang tulus hati.

Putri Lalan semula tiada menyangka arah perkataan Si Bujang Mengkurung. Setelah berpikir sejenak, Putri Lalan baru menyadari bahwa dirinya tidak punya pilihan lain, kecuali menyerahkan cintanya. Dan akhirnya Putri Lalan bersedia memberikan cintanya kepada Si Bujang Mengkurung itu.

Namun demikian, Putri Lalan mempunyai persyaratan yang harus dipenuhi oleh Si Bujang Mengkurung. Adapun syaratnya tidak terlalu berat. Pertama, jangan sekali-kali menyakiti hati Putri Lalan. Kedua, antara sepasang suami- isteri jangan menyimpan rahasia dan tak boleh membohongi. Mendengar persyaratan yang diajukan oleh Putri Lalan itu, Si Bujang Mengkurung pun menyanggupinya. Si Bujang Mengkurung berjanji tidak akan menyakiti hati Putri Lalan, dan juga tidak akan membohonginya.

Setelah saling berjanji, keduanya lalu saling bertatapan, dan segera berpelukan erat. Sejak saat itulah mereka saling menyayangi, mengasihi, dan mencintai. Bujang Mengkurung pun segera mengajaknya pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah Si Bujang Mengkurung, maka Putri Lalan segera memperkenalkan diri serta asal-usulnya. Mendengar penuturan Putri Lalan, maka kedua orang tua Si Bujang Mengkurung itupun menyambutnya dengan penuh kekaguman. “Sungguh beruntung sekali Bujang kita ini, pulang ke rumah membawa seorang bidadari,” bisik ayah Si Bujang Mengkurung kepada bininya. Ibu Si Bujang itupun balas membisik; “Ya, sebentar lagi kita akan punya menantu bidadari nan cantik jelita.”

Rupanya kedua orang tua Si Bujang Mengkurung telah sepakat untuk menikahkan anaknya. Tak lama kemudian, datanglah hari yang baik, maka Si Bujang Mengkurung dan Lalan segera dinikahkan. Oleh karena mereka hidup disebuah dusun yang terpencil, dan masih jarang penduduknya, maka upacara pernikahannya dilakukan dengan cara yang amat sederhana.
Putri Lalan pun akhirnya menjadi istri Si Bujang Mengkurung. Sebagai seorang istri, Putri Lalan selalu menunjukkan kesetiaannya kepada sang suami. Bahkan Putri Lalan terkesan amat rajin mengerjakan segala macam pekerjaan rumah. Kerjanya antara lain, membersihkan rumah, menyapu halaman, mencuci, dan memasak. Semua pekerjaan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan rasa tulus.

Melihat Putri Lalan yang tiap hari rajin membersihkan rumah, maka Si Bujang Mengkurung pun menjadi was-was. Takut kalau-kalau pakaian terbang yang disembunyikannya di kuda-kuda (langit-langit) di atap rumahnya itu diketemukan oleh istrinya. Oleh karena itu setiap Bujang Mengkurung hendak pergi ke ladang, selalu berpesan agar jangan membersihkan langit-langit atap rumah. Putri Lalan pun selalu menurut apa yang dipesankan oleh suaminya tanpa rasa curiga sedikitpun.

Waktu terus saja berlalu, bulanpun semakin cepat berjalan. Tak disadari jalinan cinta mereka telah membuahkan hasil. Ternyata perut Putri Lalan telah menunjukkan tanda-tanda kahamilan. Dilihatnya perut Putri Lalan telah mengandung, maka giranglah hati Si Bujang Mengkurung. Demikian pula ayah-bundanya.

Setelah berjalan sembilan bulan sepuluh hari, maka lahirlah seorang anak laki-laki yang mungil. Suami-istri serta kedua orang tua Si Bujang Mengkurung segera menyambutnya dengan sukacita. Setelah dimandikan dan di bersihkan, bayi laki-laki yang mungil dan lucu itupun segera disusuinya, serta dibelainya dengan penuh kasih sayang. Si Bujang Mengkurung dan kedua orang tuanya pun juga sering menimang-nimang serta membuainya secara bergantian.

Rahasia Terbongkar
Semenjak Lalan menjadi seorang ibu, pekerjaan Putri Lalan semakin bertambah banyak. Selain memasak, mencuci pakaian, melayani suami, dan membersihkan rumah serta pekarangan, juga masih merawat, mengurus, dan membesarkan anak. Namun demikian, tiada menjadikan Putri Lalan sebagai seorang ibu yang malas, bahkan Putri Lalan semakin rajin kerjanya. Akan tetapi setiap akan membersihkan langit-langit rumah, selalu dilarang oleh Mengkurung. Padahal langit-lagit rumah itu semakin kotor, karena tidak pernah dibersihkan.

Lama-kelamaan perasaan Putri Lalan menjadi semakin tidak enak, bahkan kian bertambah curiga kepada suaminya. Ia pun sering bertanya-tanya dalam hati. Adakah gerangan yang disembunyikan, jangan-jangan ada sesuatu hal yang dirahasiakan oleh suamiku. Bukankah suamiku pernah berjanji untuk tidak menyakitiku? Pikirnya dalam hati. Sepandai-pandainya tupai melompat, pada akhirnya akan jatuh jua. Serapat-rapatnya rahasia tentang kejahatan, suatu ketika akan terbongkar juga dengan sendirinya.

Pada suatu hari, tatkala Si Bujang Mengkurung sedang ada di ladang, tiba-tiba timbul niat untuk membersihkan langi-langit rumah yang amat kotor itu. Maka, segeralah Putri Lalan mengambil tangga untuk naik ke langit-langit rumah. Setelah tangga itu dipasang, lalu naiklah ia sambil membawa sapu lidi. Beberapa saat kemudian sampailah Putri Lalan di atap rumah. Maka mulailah ia membersikan seluruh debu dan kotoran yang menempel di langit-langit rumah itu. Ketika Putri Lalan sedang menyapu di bagian kuda-kuda (kaki penyangga langit-langit rumah) terlihatlah olehnya seberkas bola sinar yang berpijar amat terang.

Putri Lalan terkejut sekali, bahkan hampir saja terjatuh. Setelah didekati dan diperiksa dengan penuh hati-hati, ternyata hanyalah sepotong bambu besar yang panjangnya sekitar satu lengan. Tetapi bambu itu sangat aneh karena memancarkan sinar yang amat terang.

Oleh karena rasa penasaran ingin tahu isinya, maka bambu itupun segera dibukanya. Betapa terkesimanya Putri Lalan, karena isinya ternyata sehelai pakaian terbangnya yang telah hilang tak tertentu rimbanya. Seketika raut wajahnya yang semula agak pucat itu telah berubah menjadi ceria. Pakaian terbangnya itu segera dipegangnya erat-erat, lalu segera dibawanya turun. Kemudian bergegas ia menyembunyikan pakaian terbangnya itu. “Tiada sangka aku bisa menemukan pakaian terbangku kembali. Inilah rupanya rahasia yang disimpan oleh suamiku,” gumannya dalam batin.

Tak lama kemudian pulanglah Si Bujang Mengkurung dari ladangnya. Seperti biasanya, Putri Lalan pun segera menyiapkan makanan untuknya. Hal itu sengaja dilakukan agar suaminya tiada menaruh curiga kepadanya. Pada saat itulah Putri Lalan sengaja mencoba mengutarakan keinginannya lagi untuk membersihkan langit-langit rumah. Tetapi Bujang Mengkurung masih tetap melarangnya. Ketika Putri Lalan menanyakan sebab musababnya, tiba-tiba Bujang Mengkurung sangat marah dan membentaknya keras-keras.

Putri Lalan yang belum pernah diperlakukan kasar seperti itu, lalu menangis tersedu-sedu, seraya berucap ; “Mengapa kanda tega membentak dinda yang selalu setia, bukankah kanda pernah berjanji takkan menyakiti hati dinda”? Bujang Mengkurung pun membalasnya; “Jikalau dinda tiada memulai, tentu kandapun tiada memarahi. Maka kanda ingatkan, jangan lagi dinda menanyakan apa yang aku larangkan.

Mendapat jawaban yang tak diharapkan itu, hati Lalan semakin remuk redam. Namun demikian Putri Lalan masih merahasiakan hasil temuannya. Putri Lalan hanya ingin menguji sampai dimana ketulusan dan kejujuran suaminya itu. Oleh karena dinilainya sudah tidak jujur dan tulus lagi, maka Putri Lalan berniat akan meninggalkannya.

Sejak kejadian itulah tiba-tiba Putri Lalan jadi rindu kepada Ayah Bundanya, serta kakak-kakaknya di kayangan. “Barangkali memang sudah tertebus dosa-dosa hamba, maka sudah saatnya pula hamba harus kembali ke kayangan,” tekadnya dalam hati. Pada keesokan harinya, setelah Bujang Mengkurung pergi berladang, Putri Lalan pun mempersiapkan diri, hendak meninggalkan sang suami. Baju terbangnya telah disandang, anaknya pun digendong belakang. Maka segeralah ia menemui Si Bujang Mengkurung yang sedang berladang.

Bujang Mengkurung pun terkejut melihat Putri Lalan datang dengan memakai baju terbangnya sambil menggendong anaknya. Belum sempat Bujang Mengkurung bertanya, Putri Lalan pun telah mendahului berkata; “Wahai Kanda tersayang, kini tibalah saatnya perpisahan. Dinda bersama anakanda hendak kembali ke kayangan, meninggalkan kanda seorang. Jikalau Kanda kelak rindu nian, pandanglah saja dari kejauhan, karena dinda berdua dalam rembulan.” Putri Lalan pun segera terbang pelan-pelan, meninggalkan Bujang Mengkurung.

Setelah dilihatnya Putri Lalan terbang bersama anaknya, maka menjeritlah keras-keras Si Bujang Mengkurung: “Lalaaan beleeek! Lalaaan beleeek! Lalaaan beleeek! ( belek artinya kembali).

Kembali ke Kayangan
Ceriteranya, tatkala keenam kakak-kakak Putri Lalan itu sampai di kayangan, maka segeralah mereka berenam menghadap Ayah Bundanya. Apapun yang akan menimpanya, mereka sudah pasrah dan siap menerima hukuman. Keenam kakak beradik itu telah memaklumi, bahwa kasih sayang Ayah Bundanya terhadap si bungsu Putri Lalan amatlah sangat mendalam. Oleh karenanya, merekapun tentunya mendapat marah dan hukuman yang berat.

Benarlah apa yang telah mereka ramalkan berenam. Setelah mendengar cerita keenam anaknya, dan tidak melihat Putri Lalan di hadapannya, maka terkejutlah Ayah Bundanya. Bahkan karena amat sayangnya, Bundanya pun terus jatuh pingsan tak sadarkan diri. Sedangkan Ayahandanya meluapkan amarahnya kepada mereka berenam. Kemudian mereka berenam tidak diperbolehkan masuk rumah, hingga adiknya Putri Lalan kembali lagi ke kayangan.

Maka sejak itulah, keenam kakak beradik pun hidupnya terlantar. Kerjanya tiap hari hanya termenung sambil berdendang pilu, meratapi si bungsu Putri Lalan yang amat dicintainya. “Oi, Putri Lalan belek ne asoak, tumitne awea teno desoak”, begitulah dendang pilunya keenam kakak Putri Lalan.

Mereka sangat menyesal karena telah menuruti keinginan adiknya yang ternyata berakibat sangat fatal. Apa gunanya penyesalan, jikalau sudah kejadian. Padahal para dewa telah membuat larangan, itulah akibat dari pelanggaran.

Setelah sekian tahun lamanya, tiba-tiba Putri Lalan muncul dihadapan kakaknya. Mereka terperanjat melihat si bungsu Putri Lalan kembali dengan menggendong anak di belakangnya. Oleh karena sudah menanggung rindu yang amat mendalam, maka merekapun segera menyambutnya dengan sukacita, serta saling berebut duluan untuk memeluk putri Lalan erat-erat.

Keenam kakaknya itu kemudian berlari menghadap Ayah Bundanya, seraya berteriak dengan kerasnya; “nek inok! Putri Lalan belek! Putri Lalan belek, nek inok! Putri Lalan belek! Putri Lalan belek! (Ayah- Bunda! Putri Lalan pulang ! Putri Lalan pulang ! nek inok! Putri Lalan pulang ! Putri Lalan pulang !). Setelah melihat kembali si bungsu Putri Lalan yang telah lama menghilang, maka kedua Ayah Bundanya pun menyambutnya dengan girang bercampur haru.


Diceritakan kembali oleh :
Agus Setiyanto Z

Back Link :
http://rejang-lebong.blogspot.com/2009/02/putri-lalan-asal-usul-lagu-lalan-belek.html

Admin :
Adapun Bujang Mengkurung sejak di tinggalkan istrinya Lalan sangat bersedih hati. Rasa menyesal telah berbohong dan memarahi istrinya sangat membuat semakin rindu kepada Lalan. Rasa sedih hati dan kerinduan Bujang Mengkurung di inspirasikan dengan lagu rakyat berjudul Lalan Belek. Text lagu lalan belek bisa di baca di Link

Monday, February 9, 2009

Putri Sedaro Putih - Asal Mula Pohon Enau

Posted by Yayux at 7:34 PM 0 comments
Read this Folk tale in English Link

Pohon Sedaro Putih atau di kenal dengan Pohon Enau di desa Sindang Jati, Tanah Rejang

Oleh : Tun Jang
Cerita rakyat : Suku Rejang

(Bengkulu, Sumatera bagian Selatan)

Cerita ini berasal dari Suku Rejang. Dahulu di sebuah desa terpencil hidup tujuh orang bersaudara.Nasib mereka sungguh malang,mereka sudah menjadi yatim piatu semenjak si bungsu lahir.Tujuh saudara itu terdiri dari enam orang laki-laki dan seorang perempuan.Si bungsu itulah yang perempuan.Namanya putri sedoro putih.Tujuh orang bersaudara itu hidup sebagai petani dengan menggarap sebidang tanah di tepi hutan.Si bungsu sangat disayangi keenam saudaranya itu.Mereka selalu memberikan perlindungan bagi keselamatan si bungsu dari segala macam marabahaya.Segala kebutuhan si bungsu mereka usahakan terpenuhi dengan sekuat tenaga.

Pada suatu malam,ketika putri sedoro putih tidur,ia bermimpi aneh.Ia didatangi seorang laki-laki tua."Putri Sedoro Putih,kau ini sesungguhnya nenek dari keenam saudaramu itu.Ajalmu sudah dekat,karena itu bersiaplah engkau menghadapinya".
"Saya segera mati?" tanya Putri Sedoro Putih dengan penuh penasaran.
"Benar,dan dari pusaran kuburanmu, nanti akan tumbuh sebatang pohon yang belum pernah ada pada massa ini.Pohon itu akan banyak memberi manfaat bagi umat manusia." Setelah memberi pesan demikian lelaki tua itu , lenyap begitu saja. Sementara Putri Sedaro Putih langsung terbangun dari tidurnya.Ia duduk termangu memikirkan arti mimpinya.

Putri sedaro putih sangat terkesan akan mimpinya itu, sehingga setiap hari ia selalu terbayang akan kematiannya. Makan dan minum terlupakan olehnya. Hal ini mengakibatkan tubuhnya menjadi kurus dan pucat. Saudara sulung sebagai pengganti orang tuanya sangat memperhatikan Putri Sedoro Putih. Ia menanyakan apa sebab adiknya sampai bersedih hati seperti itu. Apakah ada penyakit yang di idapnya sehingga perlu segera di obati ? Jangan sampai terlambat diobati sebab akibatnya menjadi parah .

Dengan menangis tersedu-sedu Putri Sedoro Putih menceritakan semua mimpi yang dialamainya beberapa waktu yang lalu.
Kata sedaro putih,"Kalau cerita dalam mimpi itu benar, bahwa dari tubuhku akan tumbuh pohon yang mendatangkan kebahagiaan orang banyak, aku rela berkorban untuk itu."
"Tidak adiku, jangan secepat itu kau tinggalkan kami. Kita akan hidup bersama, sampai kita memperoleh keturunan masing-masing sebagai penyambung generasi kita. Lupakanlah mimpi itu. Bukankah mimpi sebagai hiasan tidur bagi semua orang ?", kata si sulung menghibur adiknya.

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Mimpi itu pun telah dilupakan. Putri Sedoro Putih telah kembali seperti sempula, seorang gadis periang yang senang bekerja di huma. Hasil panen pun telah dihimpun sebagai bekal mereka selama semusim.

Pada suatu malam, tanpa menderita sakit terlebih dahulu Putri Sedaro Putih meninggal dunia. Keesokan harinya, keenam saudaranya menjadi gempar dan meratapi adik kesayangannya itu. Mereka menguburkannya tidak jauh dari rumah kediaman mereka.

Seperti telah diceritakan oleh Putri Sedoro Putih. Di tengah pusaranya tumbuh sebatang pohon asing. Mereka belum permah melihat pohon seperti itu. Pohon itu mereka pelihara dengan penuh kasih sayang seperti merawat Putri Sedaro Putih. Pohon itu mereka beri nama Sedaro Putih.

Disamping pohon itu, tumbuh pula pohon kayu kapung yang sama tingginya dengan pohon Sedaro Putih. Pohon itu pun dipelihara sebagai pohon pelindung .

Lima tahun kemudian. Pohon Sedaro Putih mulai berbunga dan berbuah. Jika angin berhembus, dari dahan kayu kapung selalu memukul tangkai buah Sedaro Putih sehingga menjadi memar dan terjadilah peregangan. Sel-sel yang mempermudah air pohon Sedaro Putih mengalir ke arah buah.

Pada suatu hari, seorang saudara Sedaro Putih berziarah ke kuburan itu. Ia beristirahat melepaskan lelah sambil memperhatikan pohon kapung selalu memukul tangkai buah pohon Sedaro Putih ketika angin berhembus. Pada saat itu, datang seekor tupai menghampiri buah pohon Sedaro putih dan menggigitnya sampai buah itu terlepas dari tangkainya. Dari tangkai buah yang terlepas itu, keluarlah cairan berwarna kuning jernih. Air itu dijilati tupai sepuas -puasnya. Kejadian itu diperhatikan saudara Sedaro Putih sampai tupai tadi pergi meninggalkan tempat itu.

Saudara sedaro putih mendekati pohon itu. Cairan yang menetes dari dari tangkai buah ditampungnya dengan telapak tangan lalu dijilat untuk mengetahui rasa air tangkai buah itu. Ternyata, air itu terasa sangat manis. Dengan muka berseri ia pulang menemui saudara-saudaranya. Semua peristiwa yang telah disaksikannya, diceritakan kepada saudara-saudaranya untuk dipelajari. Cerita itu sungguh menarik perhatian mereka.

Lalu mereka pun sepakat untuk menyadap air tangkai buah pohon sedaro putih. Tangkai buah pohon itu dipotong dan airnya yang keluar dari bekas potongan ditampung dengan tabung dari seruas bambu yang disebut tikoa. Setelah sutu malam, tikoa itu hampir penuh. Perolehan pertama itu mereka nikmati bersama sambil berbincang bagaimana cara memperbanyak ketika berziarah ke kubur putri sedaro putih.

Tikoa tabung yang di buat dari seruas bambu

Urutanya sebagai berikut. Pertama, menggoyang goyang kan tangkai buah pohon Sedaro Putih seperti dilakukan oleh angin. Lalu memukul tangkai buah itu dengan kayu kapung seperti yang terjadi ketika kayu kapung dihembus angin. Akhirnya, mereka memotong tangkai buah seperti dilakukan oleh tupai. Tabung bambu pun digantungkan disana.

Buah Sedaro Putih yang di kenal sebagai beluluk di tanah rejang

Ternyata, hasilnya sama dengan sadapan pertama. Perolehan mereka semakin hari semakin banyak karena beberapa tangkai buah yang tumbuh dari pohon Sedaro Putih sudah mendatangkan hasil.

Akan tetapi, timbul suatu masalah bagi mereka, karena air sadapan itu akan masam jika disimpan terlalu lama. Lalu, mereka sepakat untuk membuat suatu percobaan dengan memasak air sadapan itu sampai kental. Air yang mengental itu didinginkan sampai keras membeku dan berwarna kekuningan.

Semenjak itu, pohon Sedaro Putih dijadikan sumber air sadapan yang manis. Pohon itu kini dikenal sebagai pohon enau atau pohon aren. Air yang keluar dari tangkai buah dinamakan nira, sedangkan air nira yang dimasak sampai mengental dan membeku disebut gula merah.

*****

Keterangan :
Pohon enau atau pohon aren termasuk pohon yang banyak jasanya bagi manusia. Oleh karena itu, untuk memuliakannya banyak versi lain kisah legenda yang berkembang di nusantara tentang asal mula pohon enau ini, salah satunya Putri Sedaro Putih yang berasal dari cerita rakyat suku Rejang. Daerah kediaman suku Rejang saat ini mayoritas wilayahnya masuk propinsi Bengkulu meskipun beberapa daerahnya yang lain masuk Propinsi Sumatera Selatan, Lampung dan Jambi.

Manfaat pohon enau atau pohon aren antara lain sebagai berikut :
1. Buahnya (disebut beluluk atau kolang kaling) dapat dibuat manisan yang lezat atau campuran kolak.
2. Ijuk di buat sapu, tali untuk mengikat kerbau, keset kaki, atap dan kuas cat, dan dapat digunakan juga sebagai atap rumah.
3. Tulang daunnya dibuat sapu lidi dan se
nik (tempat meletakkan kuali atau periuk)

Disadur dari :
  1. Arsip Blog Tanah Rejang : http://rejang-lebong.blogspot.com
  2. Cerita lisan Bapak M. Halimi Habib, lahir di Curup 28 Juli 1942, pernah menjadi guru SMPN 1 Curup (1968-1975)
  3. Cerita rakyat dari Bengkulu, Jakarta Grasindo 1993
  4. http://www.zonamobile.net/forums/index.php?action=viewtpc,6565&sid=AQk0IWRiXLY&page=87
  5. Credit photo oleh author Curup Kami dari desa Sindang Jati


Sunday, February 8, 2009

Nantu Kesumo - Legenda Bangka Hulu - Asal Usul Nama Bengkulu

Posted by Yayux at 3:04 AM 0 comments
Oleh Tun Jang

Konon orang yang pertama-tama menghuni Bengkulu ialah Nantu Kesumo dan kawan-kawannya. Ia datang dari Demak di pulau Jawa. Ia memasuki daerah Bengkulu lewat pantai (pasar Bengkulu sekarang).

Di tanah yang baru ini, Nantu Kesumo dan kawan-kawannya menghadapi tantangan yang sangat berat. Tanah Bengkulu masih merupakan hutan belantara. Binatang-binatang buas dan liar masih hidup dengan bebas namun Nantu Kesumo mempunyai kesaktian dan ilmu yang tinggi. Ia tidak takut pada binatang-binatang buas itu.

Konon pada waktu Nantu Kesumo dan kawan-kawannya sedang membuka hutan untuk membangun kampung, mereka bertemu dengan ular yang sangat besar. Ular itu dapat mereka bunuh. Badan ular yang panjang itu dipotong menjaditiga bagian sama panjang. Ketiga bagian tubuh ular itu masing-masing menjelma menjadi meriam sapu ranjau, tombak bejabai, dan tabu berantai. Untuk memperingati kisah ini, tiap-tiap mengadakan pesta perkawinan dengan memotong kerbau mesti ada tombak berambu payung kering.

Kampung yang dibangun pertamakali itu bernama Tanah Tinggi. Suatu hari penduduk kampung Tanah Tinggi itu melihat batang bangka hanyut ke hulu. Batang bangka itu sebangsa pohon pinang. Pohon bangka itu sangat aneh, bentuknya melingkar lingkar, mulai dari pangkal sampai ke ujungnya. Keanehan pohon ini mengundang penduduk Tanah Tinggi untuk menyaksikannya.

Dari kejadian inilah penduduk Tanah Tinggi menamakan tanah kediaman mereka dengan Bangka Hulu, yang berasal dari kata bangka dan hulu. Sejak saat itulah nama Bengkulu dipakai orang.

Alkisah diceritakan bahwa Nantu Kesumo datang ke Bengkulu dalam keadaan bujangan. Ia datang bersama saudaranya bernama Kayu Mentiring. Kepada saudaranya inilah dia meminta nasehat dan pertimbangan.

Sebagai manusia biasa yang normal, Nantu Kesumo tidak tahan hidup membujang terus.

Akan tetapi dia tidak mau kawin dengan wanita biasa. Wanita yang menjadi idamannya adalah Ratu Aceh. Kecantikan Ratu Aceh sudah terkenal ke mana-mana, karena itulah Nantu Kesumo bermaksud menjadikannya sebagai istri. Ia akan pergi ke Negeri Aceh untuk melamar.

Sebelum berangkat ke negeri Aceh ia mengutarakan niatnya itu kepada Kayu Mentiring, "Saudaraku Kayu Mentiring, saya berniat pergi ke negeri Aceh, dengan maksud untuk melamar Ratu Aceh. Doakanlah agar maksud saya berhasil", kata Nantu Kesumo.

"Ingat Nantu Kesumo anatara kita dan negeri Aceh selalu bermusuhan, lamaranmu mustahil diterima", kata Kayu Mentiring.

Niat Nantu Kesumo untuk memperistri Ratu Aceh sudah nekat, oleh karena itu saudaranya terpaksa menyetujui seraya katanya, "Kalau demikian maumu, saya akan membantumu. Apapun yang terjadi kita hadapi bersama".

Alkisah, berangkatlah Nantu Kesumo seorang diri dengan perahu yang bernama Rejung Kelam.

Setelah kurang lebih sebulan berlayar sampailah ia ke tepi pantai tempat pemandian Raja Aceh. tempat ini selalu dijaga oleh hulubalang raja, dengan senjata meriam yang diarahkan ke laut untuk menembak musuh.

Perahu Nantu Kesumo dapat dilihat oleh hulubalang raja, penjaga pemandian. Mereka menembakkan meriam kearah perahu Nantu Kesumo. Tak satupun peluru meriam mengenai Nantu Kesumo. Ia tidak tembus oleh peluru. Penjaga pemandian lari ketakutan. Nantu Kesumopun mendarat dan masuk ke negeri Kerajaan Aceh.

Alkisah pada waktu itu kerajaan Aceh sedang merayakan pertunangan Ratu Aceh. Salah satu acaranya adalah mengadakan gelanggang pertaruhan selama tiga bulan. Barang siapa yang akan mengikuti pertaruhan harus minta izin kepada kakak Putri Aceh bernama Raden Cili. Sesudah mendapat izin, calon peserta harus menyerahkan dua peti uang kepada Putri Aceh. Satu peti berbentuk panjang, satu lagi berbentuk pendek. Nantu Kesumo menggunakan kesempatan ini untuk bertemu muka dengan idaman hatinya Ratu Aceh.

Ia izinkan mengikuti pertaruhan. Ia pun menyerahkan dua peti uang kepada Putri Aceh. Pasa saat itulah ia bertemu muka dengan Putri Aceh, untuk pertama kalinya yang membuat keduanya saling jatuh cinta. Hubungan cinta ini tidak disetujui Raden Cili.

Nantu Kesumopun masuk ke gelanggang pertaruhan. Ia mengikuti pertaruhan permainan Gelincing Jae, yaitu sebuah permainan yang mempergunakan uang sen sebanyak dua keping yang diempaskan diatas batu. dalam permainan ini Nantu Kesumo kalah meraub, menang meraub.

Terjadilah keributan di tengah gelanggang. Permainan Gemincing Jae dihentikan, digantikan dengan pertaruhan menyabung ayam. Ayam Nantu Kesumo selalu menang, tak pernah sekalipun mengalami kekalahan. Hal ini dilaporkan panitia pertaruhan ke Raden Cili. Ia memerintahkan prajurit kerajaan menangkap Nantu Kesumo. Hal ini diketahui oleh Nantu Kesumo, iapun membuat keributan dengan memukul canang dari tempurung. Bunyi tempurung itu sebagai tanda naiknya harga beras. Tanda ini menimbulkan kemarahan kepada peserta pertaruhan yang kalah. Jumlah yang kalah sangat besar. Terjadilah keributan besar yang hebat. Banyak korban berjatuhan.

Konon dari Bengkulu telah diutus pemuda untuk menjemput Nantu Kesumo. Pemuda itu berbaju kuning. Perjalanan memerlukan waktu yang panjang, sedang persediaan makanan terbatas. Ia kehabisan makanan di tengah perjalanan, oleh karena itu ia singgah mendarat dan mendapatkan kebun pisang. Kebun ini milik seorang nenek tua. Oleh nenek tua itu ia dipersilakan makan pisang sepuas puasnya, sampai ia tidak bisa berjalan, karena kekenyangan, akibatnya tidak sampai ketempat tujuan.

Sementara itu keributan di Aceh berlangsung terus, Nantu Kesumo terluka di lambung tunggai, dan luka luka di ujung kuku (mungkin maksudnya tidak seberapa). Raden Cili dan pasukan tentaranya tidak dapat menangkap Nantu Kesumo.

Raden Cili dan tentaranya berusaha menghentikan keributan dan kekacauan itu. Dalam keadaan kacau itu Nantu Kesumo memanfaatkan kesempatan yang baik itu untuk menenui Ratu Aceh untuk membawanya lari ke Bengkulu. Dibawalah Ratu Aceh ke luar istana kerajaan. Pada malam harinya mereka menuju pantai untuk selanjutnya berlayar menuju Bengkulu. Perahu yang digunakan adalah tetap perahu Rejung Kelam. Kedua insan itu pura pura gembira dan bahagia. Nantu Kesumo gembira karena maksudnya tercapai, membawa pulang Ratu Aceh. Sedang Ratu Aceh gembira karena ia dapat bebas dari kungkungan adat kerajaan, bebas menikmati keindahan alam.

Setelah kurang lebih satu bulan berlayar sampilah mereka ke tanah harapan yaitu Bengkulu. Kedatangannya disambut dengan kegembiraan oleh saudaranya Kayu Mentiring dan semua penduduk di desanya. Upacara pernikahanpun diadakan dengan sederhana.

Sementara itu di Negeri Aceh setelah keributan dan kekacauan dapat diatasi, Raja marah kepada Raden Cili dan semua pasukannya. Raja memerintahkan kepada Raden Cili memimpin pasukan untuk menyerang Bengkulu dan mengambil Ratu Aceh. Pasukan disiapkan dengan perlengkapan dan persenjataan yang cukup dan lengkap, serta persediaan makanan yang banyak.

Nantu Kesumo sudah menduga bahwa Raja ACeh pasti akan menyusul putrinya. Karena itu sebelum mereka datang ke Bengkulu, ia dan saudaranya Kayu Mentiring memerintahkan kepada semua penduduk untuk siap-siaga menghadapi segala kemungkinan akibat serangan pasukan Raja Aceh. Benteng-benteng dibangun dan persenjataan dilengkapi, persediaan makananpun diperbanyak.

Alkisah maka datnglah pasukan Raja Aceh yang dipimpin oleh Raden Cili sendiri. Pertempuranpun terjadi antara kedua pasukan itu. Tempat terjadinya pertempuran di suatu tempat yang sekarang bernama Bukit Aceh, terletak di bagian utara kotamadya Bengkulu.

Pasukan Aceh banyak yang tewas dalam pertempuran. Mayat-mayatnya tidak sempat dikuburkan, hingga menimbulkan bau yang sangat busuk. Pasukan Nantu Kesumo tidak tahan jika terus-menerus tercium bau yang sangat busuk itu. Merekapun minta ke Nantu Kesumo untuk menjauhi tempat itu. Nantu Kesumo menyetujui dan tempat yang dipilih adalah Gunung Bungkuk. Menurut cerita orang di Gunung Bungkuk masih terdapat perahu Rejung Kelam yang sudah membatu.

Tidak lama setelah pindah sementara ke Gunung Bungkuk, Kayu Mentiring meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang anak yang bernama Bintang Roano, konon menurut cerita Bintang Roano meninggal di Bengkulu dan jenazahnya dimakamkan di daerah yang sekarang bernama Pasar Anggut. Sedangkan Nantu Kesumo sempat kembali lagi ke tempat semula, yaitu Bengkulu, setelah bau mayat hilang. Nantu Kesumo dan Ratu Aceh hidup rukun dan bahagia, tetapi sayang tidak mempunyai anak.

Sumber:
Http://rejang-lebong.blogspot.com
Ditulis ulang oleh Tunjang
Informan lisan M. Kasin, Petani Desa Suka Merindu, Kotamadya Bengkulu
Data proyek pencatatan kebudayaan daerah 1980


Thursday, February 5, 2009

Legau Serdam - Lagu Seruling - Legenda terjadinya Kawa Gunung Kaba

Posted by Yayux at 5:22 PM 0 comments
Oleh Tun Jang
Cerita Rakyat Rejang

[5.jpg]
Kawa aktif Gunung Kaba


Dalam sebuah dusun di Renah Sekelawi ada seorang pemuda bernama Sutan Indah. Ayahnya bernama Ratu Panjang, seorang kepala dusun yang di segani dan dihormati oleh rakyatnya.

Sutan Indah sangat pemalas. Ia tidak pernah membantu ayahnya berkerja di sawah dan di ladang. Oleh sebab itu ia tidak diacuhkan oleh ayahnya, meskipun ia adalah anak tunggal. Hanya kepada ibunya sajalah Sutan Indah berani mengadu. Ayahnya sibuk dengan sawah dan ladang serta sibuk memikirkan kesejahteraan kampungnya.

Setiap hari Sutan indah menelusuri tebing sungai memperhatikan ikan-ikan yang berenang dalam air. Ia duduk di atas batu, memperhatikan burung-burung meloncat dari dahan ke dahan di atas ranting dan di dalam semak belukar di sekelilingnya. Ia mengamati tupai jantan dan betina bergelut di batang bambu, yang ujung daunnya menjuntai menyapu air yang deras dan mengalir di sela batu-batu. Kalau hari terasa panas Sutan Indah terjun ke dalam air berenang ke sana ke mari, sambil bersiul kecil dengan lagunya sendiri.

Pada suatu hari, ketika Sutan Indah sedang berjalan-jalan di pinggir sungai, ia melihat sepotong bambu hanyut dibawa arus. Anehnya di atas bambu sebesar telunjuk itu, bertengger seekor burung camar. Dengan tidak di sangka, bambu itu menepi sendiri dan mendekat ke Sutan Indah. Lebih aneh lagi, burung camar tidak mau terbang. Sutan Indah berusaha memungut bambu itu dan juga burung camar yang jinak tersebut lalu dibawanya pulang.

Pada mulanya Sutan Indah bermimpi. Dalam mimpinya ia didatangi oleh seorang bidadari yang sangat cantik dan berkata, "Sutan Indah, buatlah olehmu sebuah serdam (bahasa rejang = seruling) dari bambu yang kau dapati dari sungai kemarin, sedangkan burung itu disembelih dan tanakkan minyaknya. Minyaknya kau lumurkan pada serdammu itu, keringkan selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Aku ingin sekali mendengar bunyi serdammu itu Sutan Indah".

Sutan Indah terjaga dari tidurnya, dan berusaha mengingat mimpinya itu.

Keesokan harinya dibuatnyalah sebuah serdam dari bambu yang didapatinya di sungai kemarin itu.

Tiga hari lamanya ia membuat serdam itu, dengan berhati-hati sekali jangan sampai pecah atau retak sedikitpun. Burung camar penyerta bambu tersebut dipotongnya, lalu dimasak dan diambil minyaknya. Minyak burung tersebut digosok-gosokkannya pada serdam yang baru selesai dibuatnya itu. Empat puluh hari dan empat puluh malam serdamnya dianginkan, sesuai petunjuk bidadari dalam mimpinya itu.

Kiranya bambu itulah yang disebut orang buluh perindu, dan rupanya kehendak Tuhan, buluh perinda itu dapat saja melawan arus sungai atau disebut orang hanyut ke hulu. Demikian kesaktian buluh perindu itu, menurut cerita orang-orang tua, apabila buluh perindu itu ditiup, maka suaranya sampai ke kayangan.

Setelah empat puluh hari kemudian, Sutan Indah mencoba serdamnya. Maka timbullah bermacam-macam lagu yang menyayat hati. Ketika orang sedang bekerja, terdengar alunan serdam Sutan Indah, maka berhentilah mereka bekerja, terpukau ketika mendengarnya. Pendeknya, siapa yang mendengar himbauan serdam Sutan Indah terlenalah ia dari pekerjaannya, sampai kepada ibu-ibu yang sedang memasak di dapur berhenti bekerja, sehingga hanguslah nasi tanakannya. Para gadis remaja yang sedang menjaga jemuran padi, lalu termenung, dan tidak diketahui mereka bahwa padinya hampir habis dimakan ayam dan itik.

Orang banyak bertanya-tanya, dari manakah asal bunyi serdam seperti itu. Belum pernah mereka mendengar bunyi serdam seindah itu. Akhirnya orang mengetahui serdam itu adalah milik Sutan Indah anak Ratu Panjang yang tunggal itu.

Lama kelamaan setiap orang yang mendengar bunyi serdam Sutan Indah, terbengkalailah pekerjaannya. Kalau mendengar bunyi serdam itu di malam hari terjagalah mereka dari tidurnya, terutama para bujang dan dara, timbul rasa birahi satu dengan lainnya, berkhayal sepanjang malam, gelisah tak tentu perasaan, mabuk dalam asmara. Hal ini menjengkelkan orang tua Sutan Indah. Berapa kali ayahnya melarang Sutan Indah meniup serdam itu, tetapi tidak dipedulikannya. Ketika sampai pada puncak kemarahannya, lalu diusirnyalah Sutan Indah. Dengan berat hati Sutan Indah mengkahkan kakinya pada malam itu juga, tanpa setahu ibunya.

Pergilah Sutan Indah meninggalkan kampung halamannya, kedua orang tuanya, sanak saudaranya. Pergilah ia dengan serdam buluh perindunya, mengembara menurut langkah kakinya. Kadang-kadang naik bukit turun bukit, kadang-kadang menuruti aliran sungai yang ditemuinya. Kalau terasa penat kakinya, berhentilah ia di bawah naungan pohon-pohonan. Sebelum memejamkan matanya, ditiupmya dahulu serdamnya. Mengalunlah lagu-lagu sedih yang memilukan hati, siapa yang mendengarnya. Alunan serdam Sutan Indah, kiranya terdengar juga sampai kayangan, dibawa angin lalu, sehingga termenunglah para bidadari, dan ada yang ingin turun ke bumi.

Dalam pengembaraan Sutan Indah, tibalah ia di suatu tempat di sebuah bukit. Berhentilah ia di bawah sebuah pohon yang rindang daunnya. Kiranya Sutan Indah berada di kaki sebuah bukit yang merupakan kaki langit alam kayangan. Disitu sering turun para bidadari kalau akan ke bumi, dan juga tempat bermain-main setiap bulan terang. Bukit ini dijaga oleh seorang peri yang sedang beranak bayi. Setiap hari sang peri ini pergi ke kebun di lereng bukit itu. Malam hari barulah berada di pondoknya kembali. Selama ia pergi ke kebunnya,bayinya selalu di jaga oleh seorang bidadari yang diutus dari kayangan secara bergiliran. Hari itu yang menjaga bayi sang peri adalah giliran Krikam Manis yang sangat cantik rupanya, jika dibandingkan dengan yang lain. Ketika ia menjaga bayi sang peri, terdengarlah olehnya bunyi serdam Sutan Indah. Termenunglah ia ketika itu dan ingin sekali melihat siapa peniupnya. Katanya dalam hati, "Apakah ini yang disebut orang tuanya bulu perindu". Dengan tidak disangka saat itu, terlepaslah sang bayi dari pangkuannya, jatuh ke dalam jurang bukit itu. Dari dalam jurang itu keluarlah api yang besar menandakan kemarahan dewata, ditambah bau angit karena daging bayi yang terbakar.

Setelah menyadari hal ini, bingunglah Krikam Manis dan timbullah takutnya. Sudah pasti kalau sang peri kembali nanti malam, ia akan dibunuh. Kalau kembali ke kayangan, sudah tentu akan menerima hukuman yang berat. Larilah ia dari tempat itu jauh-jauh, menuju kebawah, kearah mana suara serdam yang menyebabkan malapetaka itu.

Bunyi serdam makin lama makin jelas kedengaran olehnya. Sampailah ia di suatu tempat dekat sebatang kayu besar lagi rimbun daunnya. Tampaklah olehnya seorang pemuda sedang duduk dibawahnya sedang meniup serdam.

Ketika Krikam Manis berada di depan pemuda itu, yang tak lain dari Sutan Indah yang terusir itu, Sutan Indah sangat tercengang melihat Krikam Manis yang sangat cantik itu. Ia merasa tidak percaya kepada apa yang dilihatnya, bahwa seorang gadik berada di tengah hutan, yang belum pernah didatangi manusia. Ia teringat pula akan mimpinya pada waktu ia mendapatkan bambu hanyut dahulu. Ia membandingkan wajah putri dalam mimpinya, sama dengan wajah gadik yang berada di hadapannya itu. Setelah lama saling berpandangan itu, berkatalah Sutan Indah, "Siapa kamu ini wahai putri? Mengapa berada di sini? Siapa temanmu, apakah kamu seorang diri?". Krikam Manis menjawab, "Aku adalah seorang bidadari penjaga anak peri penunggu bukit ini. Aku lari kesini karena aku telah menjatuhkan anaknya, karena aku lengah ketika mendengar bunyi suara bulu perindu. Mungkinkah bulu perindu itu adalah buluh perindu yang engkau pegang itu?"

"Benar tuan putri. Kalau begitu akan kubuang serdam ini".
"Jangan tuanku. Aku senang mendengarnya. Coba tuanku lagukan sebuah lagu untuk menghibur ketakutanku ini".
"Jangankan sebuah lagu, lebih dari itu aku akan melagukannya".

Akhirnya kedua makhluk itu bersahabat, pergi bersama-sama menurut kehendak langkah kaki mereka. Krikam Manis merasa seperti mendapat perlindungan dari seorang jejaka. Demikian Sutan Indah dapat melupakan kesedihannya berpisah dari kedua orang tua dan kampung halamannya. Sutan Indah berjanji akan melindungi Krikan Manis, dari segala bahaya.

Selama pergaulan mereka, dan selama pengembaraan mereka, tak tentu arah tujuan, belum terlukis dan terlintas perasaan aneh dalam diri Sutan Indah. Tetapi sebaliknya, Krikam Manis telah mempunyai rasa simpati yang mendalam, bahkan lebih dari itu, sebagai naluri seorang gadis yang telah memiliki jiwa kemanusiaan, dan sudah melepaskan diri dari alam kedewaan. Dunia ini dirasakannya indah sekali selama berdampingan dengan Sutan Indah yang gagah lagi tampan itu. Terlebih lagi kalau Sutan Indah telah bersenandung dengan buluh perindunya itu. Tenang dan damai rasa di hati Krikam Manis. Hilang segala ketakutan dan kecemasan, kesedihan dan kerinduan akan alam kayangan yang telah ditinggalkannya.

Akhirnya mereka sampai pada suatu tempat, disebuah batu yang agak lebar. Di situlah mereka berhenti dan duduk beristirahat. Tak jauh dari tempat itu terdapat mata air yang panas dan dihilirnya terdapat pula dua muara sungai yang lubuknya agak dalam. Disitulah Krikam Manis menyejukkan badannya.

Sutan Indah mulai meniup serdamnya. Dari lagu ke lagu, yang sulit diartikan oleh orang biasa, merupakan untaian isi hatinya. Krikam Manis merasakan arti tiupan bulu perindu Sutan Indah itu. Tak dapat ia ungkapkan dengan kata-katanya, hanya lewat pandangan matanya tertuju kepada Sutan Indah, seolah olah mengharapkan perngertian Sutan Indah. "Marilah kita ciptakan dunia ini seindah mungkin". Bisik hati Krikam Manis.Kiranya Sutan Indah demikian pula halnya. Tetapi ia belum sanggup dan belum berani melahirkan isi hatinya yang sudah lama terpendam, sejak pertemuannya yang pertama sesuai pula dengan impianya dahulu. Kadang-kadang ia terkenang kepada ibunya yang ia tinggalkan pada malam hari keberangkatannya dari rumah. Ia tidak sempat berpamit kepada ibunya. Kadang-kadang terasa ingin pulang menjenguk ibunya sebentar. Bagaiaman Krikam Manis? Tak mungkin dibawanya serta. Ia takut kepada ayahnya yang mungkin masih dendam kepadanya. Berkatalah ia kepada Krikam Manis pada suatu malam yang indah,"Adinda Krikam, aku senang sekali menyaksikan kedua benda di atas langit pada malam ini. Yang satu bulan yang satu lagi bintang yang sangat terang itu.Bila kulihat kedua benda itu, aku rindu sekali kepada sang bulan dan aku cinta sekali kepada sang bintang itu".

"Apa maksud kakanda Sutan terhadap kedua benda itu. Siapa yang bulan siapa yang bintang yang paling terang itu?".
"Ada kau dengar lagu dalam serdamku itu Krikam?".
"Betul kakanda".
"Nah adinda. Aku merindukan ibuku, yang kutinggalkan beberapa bulan lalu. Dan aku cinta kepadamu adinda Krikam". Kemudian berkata kembali Sutan Indah dengan lemah lembut,"Adinda Krikam, jika adinda izinkan aku akan menemui ibuku sebentar, untuk menyampaikan berita gembira ini kepada ibu, bahwa aku akan segera menyuntingmu adinda. Aku bukan tak ingin membawamu serta, tetapi aku takut kalau ayahku yang bengis itu lebih marah lagi kepadaku dan kepada kita berdua. Aku sayang sekali kepadamu, jadi lebih baik adinda tinggal di sini sebentar. Pondok ini sudah cukup kuat bagimu untuk berlindung dari gangguan binatang buas". Krikam tidak berkata sepatah pun.

Keesokan harinya, Sutan Indah berangkat menuju kampungnya. Tinggallah Krikam Manis seorang diri.

Setelah sampai di kampungnya, bertemulah Sutan Indah dengan ibunya. Ibunya sangat gembira sekali, apalagi setelah mendengar cerita Sutan Indah, bahwa ia akan menyunting seorang bidadari dari Kayangan. Demikian pula ayahnya, sudah tidak marah lagi kepada Sutan Indah yang telah kembali itu. Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa Sutan Indah telah beristri. Malah disesalkannya sekali mengapa Krikam Manis tidak di bawah sekali.

Malam itu juga ayah Sutan Indah mengerahkan orang kampung untuk menjemput Krikam Manis. Gajah mena tela disiapkannya. Obor dinyalakan. Sebanyak empat puluh orang penjemput Krikam Manis.

Ibu Sutan Indah ikut juga, didampingi Sutan Indah. Ayahnya berada di depan sekali mengepalai rombongan.

Ketika ayam berkokok, tibalah rombongan di hutan dekat pondok Krikam Manis. Krikam terkejut sekali melihat nyala obor yang banyak sekali. Dari jauh terlihat olehnya rombongan orang yang banyak itu. Timbul takutnya, apalagi melihat orang yang di depan sekali sudah tua dan besar badannya serta membawa golok.

Krikam tidak melihat Sutan Indah, karena Sutan Indah masih berada di belakang rombongan, karena sedang tertatih-tatih memapah ibunya.

Krikam Manis menyangka oranga banyai itu akan berbuat jahat kepadanya dan mungkin pula ayah Sutan Indah yang akan menghukumnya. Demikian pula dikiranya bahwa Sutan Indah telah dihukum lebih dahulu oleh ayahnya. Dengan tidak berpikir panjang lagi melompatlah Krikam Manis dari pondoknya melarikan diri ke dalam hutan menerobos kegelapan malam.

Rombongan sampai di pondok Krikam Manis, tetapi ia tidak ditemui lagi. Yang tinggal hanyalah secarik perca bekas sobekan selendang Krikam Manis yang tersangkut di pintu pondok, sebagai tanda bukti kebenaran Sutan Indah akan kata-katanya. Semua penjemput merasa kecewa, apalagi Sutan Indah yang merasakannya. Rombongan kembali ke kampung pagi itu. Sutan Indah pergi pula tak menentu arahnya, untuk mencari Krikam Manis.

Disuatu tempat di dataran tinggi yang luas, Sutan Indah berhenti di bawah sebatang pohon yang rindang. Tak disadarinya serdam diangkatnya ke atas bibirnya, sambil airmatanya berlinang-linang, mengalunkan rangkaian lagu kesedihan bercampur kekecewaan dan kepatahan hati
Berhari hari lamanya.

"do legau alau moi das lenget,
duai legau ngan Ratu Panjang
tlau legau ngan Krikam Manis . . . ."

Lagu pertama ini ku persembahkan ke atas langit, untuk para dewa, keluarga Krikam Manis dengarlah. . . .

Lagu kedua kusampaikan kepada ibuku dan bapakku Ratu Panjang, dan

Lagu ketiga untukmu sayang, dimana saja kau berada, dengarlah. . . . dengarlah. . . .

Demikianlah hingga saat ini bila kita mendengar serdam di malam hari, teringat akan kisah Sutan Indah anak tunggal Ratu Panjang, bernasib malang. Hingga saat ini nasib Sutan Indah tiada diketahui lagi.

Hanya tinggal legendanya saja berupa bukit Kaba yang berkawah (Gunung Kaba dengan kawah aktip di puncaknya). Kawahnya terjadi karena telah menelan anak Peri yang terjatuh dari pangkuan Krikam Manis.

Suban air panas beserta kedua muara sungai di hilirnya adalah tempat peristirahatan Sutan Indah dan Krikam Manis yang sedang dalam kegembiraanya dahulu.

Dan menurut cerita pula, dataran bukit Seblat sebelah utara merupakan perhentian terakhir pengembaraan Sutan Indah


Reference:
Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
Informan Ibnu Hajar (48th -1981), desa Muara Aman.
Di tulis oleh Tun Jang
 

Millenium Fashion of World Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by FashionFashionFashion